TEATER RAKYAT, TAMPIL ‘MENGGEBRAK’ PUBLIK DI PELATARAN PEMKOT TANGERANG

FOTO : Pementasan Teater Nusantara dipelataran Pemkot Tangerang pada acara Festival Budaya

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Di penghujung tahun ini Pemerintah Kota Tangerang menggelar hajat seni tradisi  dalam tajuk Festival Seni Tradsi Nusantara. Mengambil lokasi di jalan raya yang membelah Kantor Walikota dan Taman Balaikota gelaran ini berlangsung. Berbagai pentas seni berbasis tradisi ditampilkan untuk rakyat Kota Tangerang yang memang sudah terbiasa menggunakan area puspem sebagai ruang publik setiap malamnya.

Pantauan Satelitkota.com, Teater Nusantara yang membawakan karya Arthur S.Nalan berjudul  Sobrat. Bukan suatu kebetulan bila yang dipilih adalah Teater Nusantara, karena grup ini menjuarai Festival Teater Jakarta tingkat Kotamadya Jakarta Barat dan juga finalis Festival Teater Jakarta tahun ini sehingga bisa dikatakan bahwa kemampuan para aktornya sudah teruji. Selain dari permainan pelakon, dramaturgi yang digunakan pada pementasan ini juga mengambil roh tradisi yang dikombinasikan dengan struktur adegan teater modern. Satu hal yang perlu dicatat bahwa istilah dramaturgi yang saya gunakan mengacu kepada strategi sutradara, bukan dramaturgi, dalam menyesuaikan lakon dengan ruang dan konteks acara.

Ayak MH sebagai sutradara Teater Nusantara memangkas banyak adegan dalam naskah yang dirasa tidak memungkinkan secara visual atau pun tematik untuk bisa dan layak ditampilkan di ruang publik. Dan pilihan ini memiliki resiko disorientasi penonton dalam memahami cerita. Tetapi hal ini tidak terbukti sepanjang pertunjukan berlangsung.

Naskah Sobrat adalah riwayat seorang kuli kontrak yang bermimpi meraih kekayaan dengan cepat, dan impiannya menjadi kenyataan lewat bantuan mahluk gaib dengan imbalan ia harus menikahi mahluk gaib tersebut. Didorong oleh hasratnya untuk kaya raya maka Sobrat menyetujui tanpa memahami akibatnya. Sobrat menjadi kaya dan membayar utangnya kepada Mandor serta menikahi perempuan idamannya. Tetapi ia meremehkan mahluk gaib yang sudah menolongnya menjadi kaya, maka ia pun harus menerima resikonya. Yakni menjadi bisu dan tuli.

Ada banyak rincian alur dalam naskah aslinya dipangkas demi menyelamatkan pementasan itu sendiri. Dan kisah pun selamat sampai di benak penonton pada malam itu. Ditambah kolaborasi permainan musik dari Barak Karinding (Komunitas BAKAR) yang bermarkas di Cimone menambah serunya pementasan. Untuk mendapatkan indikator yang jelas dari keberhasilan itu saya secara tidak sengaja duduk di samping dua anak berusia sekitar 10 tahunan, berdasarkan ukuran fisik dan cara mereka berdialog yang tertangkap oleh telinga saya. Nyaris di setiap adegan mereka saling menerka apa yang terjadi berikutnya dan banyak dari tebakan mereka ternyata benar.

Katanya, meski belum pernah menonton lakon ini sebelumnya, tapi mereka menjawab interpretasi mereka terhadap cerita. Maka dapat dikatakan bahwa alur cerita berdurasi 71 menit ini  tersampaikan dengan baik dan itu memudahkan lakon diterima dalam benak penonton.

Menurut Ch. Cheme Ardi, publik yang menonton pada malam itu secara kuantitas sudah bagus tinggal kualitasnya yang perlu diperdalam sehingga esensi dari pementasan dapat ditangkap dengan gamblang. Tetapi memang untuk mencapai ke arah yang diidamkan Cheme perlu waktu dan rutinitas.

“Gelaran yang dibuat pemkot Tangerang sudah bagus tinggal kontinuitas dan kerelaan dari Disbudparman, Dinas Kebudayaan pariwisata dan pertamanan, untuk memberikan kerja budaya ini kepada pihak yang berkompeten agar penggarapan acara seni budaya mampu berdampak kultural kepada publik,” ujar peteater yang sudah menggeluti jagad teater sejak tahun 1973.

Pasalnya, dampak yang diharapkan adalah publik tidak hanya menjadi apresiator tetapi juga terlibat secara aktif dalam peristiwa budaya yang berlangsung. Untuk mencapai hal tersebut maka gelaran semacam ini tidak bisa dilakukan dengan pendekatan birokratik, tetapi dengan mencipta ruang, membukanya dan merangsang publik berkolaborasi didalamnya dengan begitu maka lahirlah nilai kultural yang tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat itu sendiri, paparnya kepada wartawan berita online Satelitkota.com, Rabu (6/12).

Lanjutnya, Teater Nusantara dengan Sobrat pada malam itu mampu menampilkan wajah teater yang merakyat, tetapi bila gelaran ini dikerjakan oleh pihak yang berkompeten maka akan muncullah teater-teater rakyat yang tumbuh dan berkembang dari, oleh dan untuk rakyat Tangerang. (BOY/MED)

 

Related posts

Leave a Comment