PEDAGANG OTOK-OTOK RAUP UNTUNG BELASAN JUTA SEBULAN

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Abdul Muit (42 tahun), pedagang mainan keliling ini menjelaskan jaman yang semakin modern, ikutlah berkembang pula mainan-mainan untuk anak. Selain bentuk mainannya makin modern dan perilaku anaknya juga pelan-pelan mulai meninggalkan mainan tradisional. Namun, katanya untuk mainan jenis krecekan dan otok-otok, lanjut dia tidak mengenal jaman. Jenis mainan ini sampai sekarang masih banyak disukai bagi anak usia dini.

Sejak pagi selasai waktu subuh Abdul mulai menggendong mainan ini untuk biasa ia jajakan keliling pasar, mainan krecekan dan otok-otok ini menurut cerita Abdul sudah ada sejak puluhan tahun, bahkan saat dia kecil pun sudah ada mainan tersebut. Bedanya hanya pada bentuk dan bahannya yang sudah lebih indah dan pas untuk anak-anak. “Sekarang ini mainan tradisional sudah lebih baik, bahannya sekarang dari plastik jadi tidak gampang rusak dan lebih ringan. Dulu mainan otok-otok bahanya dari kaleng seng. Sekarang bentuknya juga lebih sederhana tapi warna-warnanya lebih ramai dan lebih ringan,” papar Abdul Muid kepada wartawan SATELITKOTA.COM, Kamis, (01/02/18).

Meski kelihatannya sederhana, mainan tradisional ini masih diburu oleh anak-anak dan tidak kalah dengan mainan modern lainnya. Hal ini karena bentuknya yang khas seperti baling-baling kipas. Selain itu mainan ini juga bisa bunyi dengan renyah, lincah saat baling-baling itu berputar ditiup oleh angin.

Demikian juga mainan otok-otok, mainan ini akan mengeluarkan suara yang khas pula kalau didorong majumundur. Gambar pada bagian badan mainan juga didesain apik menyerupai sayap burung sedang terbang. Jika roda digerakan maka kedua sayapnya ini akan bergerak dengan spontan.

“Bentuk, dan desainnya dibuat semenarik mungkin agar anak-anak tetap tertarik dengan mainan tradisional,”terangnya.

Dalam sehari ia bisa menjual mainan itu sebanyak 50 – 60 mainan. Untuk satu mainan krecekan dijual Rp. 10 ribu dan untuk mainan otok-otok dijual Rp. 6 ribu. Dalam sebulan omzet rata-rata bisa mencapai Rp. 10 juta sampai Rp. 15 juta rupiah.

“Jualan mainan ini yang penting tahu tempat-tempat yang ramai pembeli,” katanya. Tempat yang diburu biasanya di pasar-pasar yang berada di lingkungan warga. “Pasar lingkungan itu lebih ramai buat jualan dan selain itu waktu jualannya sebentar, setelah itu bisa keliling lagi pindah tempat lainya,” paparnya.

Untuk belanja mainannya dia langsung datang ke pengrajinnya di Jepara, setiap satu bulan sekali pulang ke Jepara hitung-hitung sekalian pulang kampung, tutur Abdul. Pria asal Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Propinsi Jawa Tengah ini sejak lulus MTS ia sudah berkelana ke Jakarta. Mencari peruntungan dengan merantau ke ibukota sudah menjadi tradisi bagi pemuda desa sepertinya.

Jakarta, Tangerang, Banten, Lampung, Medan, dan Aceh dilalui Abdul demi bergelut melawan kerasnya ibukota sambil menggendong mainan otok-otok dan krecekan. Mengais rejeki dari berdagang mainan tradisional ini untuk di luar jawa, satu mainan seperti otok-otok dan krecekan dibandrol Rp. 15 ribu. Tapi, jualan ke luar jawa ini kata Abdul hanya waktu-waktu tertentu saja seperti pada musim panen kopi yaitu pada bulan April dan bulan Mei.

Pada musim panen kopi ini dia biasanya bisa belanja mainan setiap dua minggu sekali. Kebiasaan ini katanya sudah dilakoni sejak harga satu mainannya masih Rp. 100 rupiah, ujar bapak dua anak ini dengan riang. (MED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.