SENIMAN DAN BUDAYAWAN TANGERANG CURHAT SOAL GEDUNG KESENIAN

FOTO: Ketua DPRD Kota Tangerang, Suparmi ST, bersama Abah Mustaya (tengah) dan Iyan S. Wiradinata (batik)

TANGERANG,SATELITKOTA.COM РSeniman dan Budayawan senior curhat terkait pengalaman berkesenian dibeberapa tempat gedung atau bangunan yang sudah tidak terpakai pada tahun itu  para seniman dan budayawan ini pernah boyong sana-sini dengan berpindah-pindah dari gedung satu ke gedung lain itu untuk aktivitas kesenian layaknya gedung kesenian, mulai dari bangunan bekas bioskokp Bumek, bekas bangunan kepemudaan, dan bekas bangunan Baperki. Mereka berpindah-pindah dari tempat satu ke tempat lainnya, papar Abah Mustaya  kepada Suparmi, Ketua DPRD Kota Tangerang, yang menjadi narasumber dalam kegiatan Panggung Apresiasi Seni (Papress) edisi 3, baru-baru ini.

Diketahui sebelumnya, kegiatan Papress ini rutin diselenggarakan DKT di Gedung Kesenian Tangerang, Modern Land, Kota Tangerang. Tujuannya yakni mempererat tali silaturahmi sekaligus membedah karya seni melalui diskusi sembari ngopi. Di edisi 3 Papress ini, DKT mengadakan Diskusi Kebudayaan yang bertema “Kebudayaan: Antara Pembaharuan dan Harapan di Kota Tangerang”.

Hadir dalam kegiatan seorang seniman dan budayawan senior yang usianya kini tak lagi muda, R. Mustaya (80) atau akrab disapa Abah Mustaya. Pengalamannya tercatat sejak era Presiden Soekarno hingga era Jokowi saat ini. Abah bercerita tentang pengalamannya mengawali dan mengusulkan Gedung Kesenian Tangerang yang pada saat itu berjuang bersama para penggiat seni lainnya di wilayah tangerang.

“Dahulu masih kabupaten, era nya Pak Thamrin. Lalu berlanjut ke era Zakaria Mahmud sampai sekarang era Pak Wahidin Halim. Keberadaan gedung kami pindah-pindah, kaya pedagang kaki lima. Sampai akhirnya kita dibangunin gedung ini oleh Pak Zakaria Mahmud,” tutur Abah.

Ia berpesan agar gedung kesenian saat ini tidak dihancurkan. Ia juga berpesan agar pemerintah perhatian untuk menjaga dan merawat gedung tersebut supaya tetap layak. Beruntung, kata Abah, para seniman di tangerang masih bisa ngamen untuk mempertahankan seni budaya tangerang.

“Kami hanya ingin menumbuhkan jiwa-jiwa seni kepada generasi agar kesenian dan kebudayaan ini tetap lestari. Banten ini gerbangnya nusantara, khususnya Kota Tangerang. Kita malu kalau gedung keseniannya tak layak seperti ini,” tandas Abah.

Hal tersebut menuai tanggapan positif dari Suparmi, Ketua DPRD Kota Tangerang. Ia mengaku akan memperjuangkan kebutuhan para seniman dan budayawan terutama soal gedung. Ia juga mengaku akan mendorong dinas terkait untuk segera merealisasikan pembangunan gedung agar menjadi lebih layak.

“Minimal gedung ini direnovasi kalau belum bisa membangun gedung yang baru. Ini akan terus saya sampaikan di paripurna,” ujarnya.

Sementara Ketua DKT, Sudjarwo menjelaskan, selain menjaga silaturahmi, kegiatan Papress ini memiliki tujuan untuk memberi ruang ekspresi bagi para seniman lokal khususnya di Kota Tangerang, atau para seniman di luar tangerang yang juga ingin berekspresi.

“Bagi pengarang, kritikus seni, dan seniman lainnya bisa hadir untuk mencurahkan ide-idenya, sekaligus menjadi ruang refleksi untuk pemenuhan ide-ide kreatif,” kata Sudjarwo.

“Kemudian untuk pelukis, sutradara teater, sutradara film, pemain teater, seniman tradisi dan lainnya juga bisa saling bercerita seputar karya seni,” imbuhnya.

Di edisi 3 kali ini, lanjut Sudjarwo, Papress menghadirkan para seniman dan budayawan yang telah berjasa dalam mempertahankan seni budaya di Kota Tangerang antara lain R. Mustaya dan Iyan S. Wiradinata, seorang seniman yang menciptakan Mars Kota Tangerang. Hadir juga seorang akademisi kondang di Kota Tangerang, Jazuli Abdillah beserta para penggiat seni lainnya.

“Kebetulan nara sumber kita kali ini Bu Suparmi. Makanya tadi Abah sempat curhat soal gedung kesenian. Karena DKT ini kan sebagai wadah, jadi kalau gedung keseniannya lebih representatif, tentu akan berdampak pada aspek sosial dan ekonomi di Kota Tangerang,” pungkasnya.(HEL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.