GERHANA BULAN TOTAL BOLEH DISAKSIKAN DENGAN MATA TELANJANG

FOTO: Teguh Rahayu S.Kom, Kepala Stageof Klas I Tangerang

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Stasiun Geofisika (Stageof) Klas I Tangerang menyampaikan, Fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) pada 28 Juli 2018 merupakan gerhana bulan dengan fase totalitas mencapai 103 menit, yang terlama selama 100 tahun ke depan.

Hal itu disebabkan antara lain: (1) Pusat piringan bulan dekat dengan pusat umbra bumi, (2) posisi bulan terletak di sekitar titik terjauh dari bumi (titik apoge), (3) posisi bumi di sekitar titik terjauh dari matahari (aphelio) berjarak 152 juta km, sehingga kerucut umbra semakin panjang dan besar dibandingkan saat perihelion.

“Cuaca diperkirakan cerah berawan,” kata Teguh Rahayu, Kepala Stasiun Geofisika (Stageof) Klas I Tangerang, melalui pesan singkatnya, Jumat (27/7).

Menurut dia, fenomena GBT dapat menyebabkan naiknya permukaan air laut akibat gravitasi bulan, sehingga terjadi fenomena air laut pasang. Dengan demikian, dirinya menghimbau kepada masyarakat di wilayah pesisir untuk waspada.

“Masyarakat di pesisir pantai diminta untuk waspada saat gerhana bulan berlangsung hingga beberapa saat setelah gerhana, karena bisa terjadi laut pasang tinggi,” terangnya.

Kendati demikian, bagi masyarakat Kota Tangerang yang hendak menyaksikan fenomena GBT ini, lanjut Rahayu, boleh datang menuju Stageof Klas I Tangerang, di Jalan Meteorologi 1, Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Kata dia, fenomena tersebut boleh dilihat dengan mata telanjang.

“Kami pengamatan menggunakan satu teropong. Persiapannya dimulai sekitar pukul 22.00 wib. Kami harap masyarakat dapat menjadikan ini sebagai sarana edukasi kepada anak-anak, khususnya tentang benda-benda langit dan juga ilmu astaronomi,” tutur Rahayu.

“Hal ini juga sebagai pembuktian bahwa bulan, bumi, dan planet lain di tata surya bergerak mengelilingi matahari,” pungkasnya.(HEL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.