KELOMPOK TEATER DARI INGGRIS PENTAS DI TIM

JAKARTA,SATELITKOTA.COM  – Grup teater dari Inggris, Imitating The Dog, melakukan lawatan  ke Indonesia pada minggu lalu. Diawali dengan pementasan di Makassar pada 14 Juli 2018 dan kemudian berlanjut di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki pada 20 Juli 2018 masih dengan lakon yang sama yang berjudul “Nocturnes”.

Lakon ini berlatar tahun 1956 di era mendekati perang dingin  dengan tema spionase yang mencuat. Dimainkan oleh tiga orang aktor yaitu Matt Prendergast sebagai Harry, Laura Atherton memerankan Amy dan Morven Macbeth menjadi Control.

Panggung hanya terdiri dari sepotong layar berukuran besar sebagai latar belakang sekaligus juga memunculkan adegan film dengan karakter-karakter yang sama dengan aktor di depan layar yang hanya diisi kursi, meja, botol minuman, gelas, kertas-kertas yang dibagikan ke Harry dan  Amy dan mikropon. Tema spionase dengan ruang kota Berlin sesudah Perang Dunia ditampilkan dalam film dan pada saat bersamaan tiga aktor menyulih suarakan adegan dalam film dengan situasi yang berbeda dari yang tersaji di layar.

Dua adegan yang simultan ini tentu memunculkan problematik personal bagi penonton untuk memilih fokus. Dan rupanya itulah yang menjadi tujuan dari pertunjukan ini, seperti yang diungkapkan Pete Brooks, pengarah artistik, pada diskusi seusai pementasan bahwa lakon ini membicarakan takdir dan kebenaran dari narasi-narasi yang muncul dalam kehidupan kita. Semacam upaya memunculkan rasa kritis publik atas apa yang terjadi di sekitarnya.

“Kami memulai produksi ini tiga tahun lalu, pada saat itu kata-kata yang ada disini konteksnya berbeda dengan yang sekarang, naratif yang sedikit berbeda. Kami berbicara tentang takdir, tentang kehidupan kita, tentang apakah narasi-narasi yang diberikan dalam hidup kita sehari-hari itu brenar atau tidak,dan apa yang juga terjadi di sekeliling kita,” ucap Brooks sebagaimana yang diterjemahkan oleh translator. Pemilihan era sebelum perang dingin juga dilakukan karena kondisi saat itu semua orang sedang mrerasa kebingungan, tambah Brooks.

Atmosfer kebingungan ini yang dieksplorasi Imitating The Dog dalam bentuk dua visual simultan yang membutuhkan perhatian dari penonton. Brooks yang juga menjadi penulis lakon ini kermbali menambahkan tentang upaya saling mengendalikan antara adegan di layar dan adegan yang dibangun aktor di panggung yang terkadang bersifat tarik menarik untuk menjadi pengendali.”Apa yang terjadi di film adalah semacam takdir,” Morven Macbeth yang mengisi suara banyak karakter menambahkan. Salah satu peran yang dimainkan Morveni adalah Kristina yang didalam film menjadi mata-mata yang harus diselamatkan Harry dan karakter ini menjadi simbolisasi dari pengendali dalam diri kita, Brooks turut menjelaskan.

Diskursus tentang post-truth memang mengemuka dalam lakon ini, hal tersebut juga disitir oleh Irawan Karseno dalam sambutannya sebagai Ketua DKJ sebelum pentas dimulai. Dampaknya tentu membuat teater ini tidak mungkin dibaca dalam bingkai teori pada umumnya. Hal tersebut diucapkan oleh Eb Magor, Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Tangerang yang turut hadir malam itu.  “Tidak mungkin menilai kekuatan akting para aktor sebagaimana menilai kadar keaktoran teater bergaya realis pada umumnya, karena ini berbeda,” ditambahkan olehnya. Sementara penyair yang juga aktor, Amien Kamil, memandang teks-teks dan adegan sebagai puitik. “Aku perlu menonton  pertunjukan ini hingga dua kali untuk dapat menikmati kadar puisi dalam setiap teks dan juga adegan yang dibangun,” Amien menerangkan apa yang dilihatnya hari itu.

Pertunjukan ini didukung penuh oleh British Council dan ini menunjukan betapa kuatnya pengaruh seni dalam membentuk peradaban yang lebih baik lagi di masa mendatang sehingga perlu didukung sepenuhnya. Hal tersebut tercermin dalam sambutan oleh  British Council dan upaya tersebut kiranya dapat ditiru oleh institusi yang terkait dengan seni di Indonesia agar para seniman kita juga mampu berkiprah di pentas mancanegara tanpa harus bersusah payah mencari pendanaan sebagaimana yang sering terjadi selama ini. Hal tersebut diucapkan seorang penonton yang tidak ingin disebut namanya namun yang jelas namanya besar dalam jagad seni nasional. (BOY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.