STUDI TENTANG LAUT DALAM PRESENTASI TEATER

JAKARTA,SATELITKOTA.COM – Indonesia adalah negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang di dunia. Dua pertiga dari wilayah negeri ini adalah lautan, Apa yang kita ketahui tentang laut? Atau tentang kultur maritim? Inilah pertanyaan yang coba dijawab oleh Bandar Teater Jakarta lewat presentasi workshop berjudul “Jellyfish (Studi Tentang Laut)” pada 28 Juli 2018 di Kolam Renang Gelanggang Remaja Jakarta Utara.

“Inikan sebetulnya yang dipelajari adalah studi tentang laut sebelumnya yakni Dancing Queen yang mainnya di basement parkir Teater Besar (2017), teman-teman workshop mendekonstruksi itu dengan cara mereka,” terang Malhamang Zamzam yang menjadi salah satu mentor bagi partisipan workshop. Lewat lakon ini dan juga pementasan sebelumnya, Bandar Teater Jakarta memang menggunakan metode workshop untuk membentuk pertunjukan. Enam partisipan mengikuti serangkaian pelatihan yang digelar di Sanggar  O di  Bogor dan presentasi kali ini mengambil ruang yang secara visual menjadi penanda laut.

“Yang paling sulit adalah bagaimana melihat dan membaca ruang.  Teman-teman sudah stres duluan melihat ruang yang besar namun setelah tiga hari berlatih disini bisa kepegang,” kembali dijelaskan oleh Malhamang. Terdapat satu kolam renang besar dengan ukuran 50 m x 25 m dengan kedalaman 170 cm dan satu kolam renang  lebih kecil berukuran 25 m x 5 m dan kedalaman 40 cm yang menjadi laut bagi presentasi  ini. Pada dua kolam renang tersebut, mereka bermain dalam alur non-linier yang tentunya sulit dibaca dalam paradigma teater konvensional yang literatif.

Sebagai upaya dekostruksi, Jellyfish disajikan dengan penanda keberadaan ubur-ubur  sebagai simbol dari lingkungan yang tumbuh dan berkembang di laut. “Kalau di Dancing Queen yang dibicarakan adalah laut di kepala masing-masing dan disini lautnya menjadi lain, lautnya mereka menjadi ada penanda ubur-ubur,” ucap seniman teater yang berkecimpung sejak 70-an ini. Judul Jellyfish sendiri dipilih oleh peserta workshop yang dipadukan dengan subjudul Studi Tentang Laut.

Laut dalam konteks ini memang tidak sebatas laut dalam pemahaman ruang semata tetapi lebih dari itu juga ada faktor kultur maritim yang coba diselami dan juga biota laut sebagai sebagai suatu ekosistem. Hal ini senapas dengan ruang eksistensi Bandar Teater Jakarta yang berada dekat laut dan juga latar belakang Malhamang Zamzam yang lekat dengan kultur maritim yang dicirikan dengan sikap terbuka terhadap pengaruh yang datangnya dari seberang lautan. Dalam bahasa Benny Johanes, seniman teater dari Jawa Barat dalam sebuah tulisannya, dramaturgi Bandar Teater jakarta memang lekat dengan dunia maritim karena faktor ruang dan kultur.

Tema laut yang dielaborasi melalui metode pemanggungan dengan membongkar batasan yang dipondasikan oleh seni modern ini  menjadi evaluasi bagi mereka untuk kembali mempertanyakan apakah ini bisa disebut teater kontemporer sekaligus sebagai penutup dari studi laut yang sudah mereka lakukan sejak tahun lalu, kata Malhamang kembali.

Namun bukan berarti teater kontemporer serupa yang dipresentasikan Bandar Teater Jakarta ini tanpa kritik. Edian Munaedi dari Teater Stasiun yang menjadi penyaksi dari lakon Dancing Queen tahun lalu dan Jellyfish malam itu menilai,”Pendekatan pemain dalam memahami laut terlalu literatif, analitis.” Ia menyebut Dancing Queen lebih terasa lautnya dibanding Jellyfish malam itu. Tidak semua yang hadir malam itu mengetahui komparasi kedua lakon ini, malah banyak juga penonton usia remaja yang tidak terlalu ambil pusing dengan narasi diskursus semacam itu.

Walau begitu, teater kontemporer seperti ini menjadi penyeimbang dari alur kebudayaan yang semakin condong ke arah populisme sehingga peradaban menjadi kian dinamis, tutur Edian sembari menyudahi percakapan kami.(BOY)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.