BPJS KESEHATAN GANDENG 8 MITRA UNTUK DONGKRAK KOLEKTABILITAS IURAN JKN-KIS

JAKARTA,SATELITKOTA.COM – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sampai saat ini telah memiliki jumlah peserta lebih dari 200 juta jiwa. Tidak heran bila BPJS Kesehatan merupakan badan penyelenggara jaminan kesehatan dengan peserta paling besar di dunia. Namun, sebagian segmen peserta memiliki tingkat kolektibilitas iuran yang masih rendah.

Guna mendorong kolektibilitas iuran lebih meningkat untuk menjaga kesinambungan program tersebut, badan penyelenggara program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) tersebut terus berupaya mendorong kolektabilitas iuran dengan menggandeng delapan mitranya, baik dari perbankan maupun non-perbankan, yaitu  Bank Mandiri, BRI, BTN, BCA, Tokopedia, Gojek, Traveloka, dan Koperasi SAHARA, dan Bank Kesejahteraan Ekonomi.

Direktur Keuangan dan Investasi BPJS Kesehatan Kemal Imam Santoso, menuturkan, salah satu tantangan terbesar BPJS Kesehatan dalam mengelola program JKN-KIS adalah memastikan peserta yang telah terdaftar pada semua segmen membayar iuran, khususnya peserta segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) alias peserta mandiri. Saat ini dari total 200,3 juta peserta Program JKN-KIS, sebanyak 14.35% atau 28.7 juta di antaranya adalah peserta mandiri.

“Dari jumlah tersebut, tingkat kolektabilitas iuran segmen PBPU berdasarkan data per minggu keempat Juli 2018, justru berada di tingkat kolektabilitas terendah jika dibandingkan dengan segmen kepesertaan lainnya,” kata Kemal usai acara Penandatanganan Kerja Sama Dukungan Intensifikasi Penagihan Tunggakan Iuran dengan Mitra BPJS Kesehatan, Rabu (08/08).

Kedelapan mitra BPJS Kesehatan siap bersinergi mengoptimalkan upaya penagihan iuran, khususnya iuran dari segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) alias peserta mandiri, melalui mekanisme Limited Collection Program (LCP).

LCP menyasar para peserta PBPU yang menunggak 4-12 bulan. Melalui mekanisme ini, mitra BPJS Kesehatan akan memberikan benefit bagi peserta PBPU yang melunasi tunggakan iurannya seketika itu juga. Melalui skema tersebut, diharapkan peserta PBPU yang menunggak dapat terdorong untuk segera melunasi iurannya tanpa harus menunggu sakit terlebih dulu.

“LCP merupakan bentuk komitmen nyata BPJS Kesehatan beserta mitra, untuk menghadirkan kemudahan bagi peserta JKN-KIS dalam menunaikan kewajibannya, membayarkan iuran secara tuntas dan mewujudkan kegotong-royongan dalam program ini. Kami ucapkan terima kasih kepada para mitra BPJS Kesehatan yang telah berkomitmen mengimplementasikan LCP mulai Agustus sampai dengan Oktober 2018 nanti,” tutur Kemal.

Kemal berharap, program ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh seluruh peserta JKN-KIS, khususnya segmen peserta PBPU, “Agar mereka dapat menunaikan kewajibannya membayar iuran secara tuntas untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat,” ujar Kemal.

Menurut  Kemal, pihaknya tidak mencanangkan target perolehan premi dari program tersebut. Karena program ini waktunya yang sangat terbatas, hanya tiga bulan. “Kami melihat program ini sebagai pilot project dulu, untuk mempelajari, kenapa peserta BPJS Kesehatan telat membayar secara rutin, kenapa membayar secara rutin, kenapa membayar kemudian tidak membayar. Kami tentu punya datanya, tetapi di dalam kerja sama dengan mitra kami coba intensifkan,” terang Kemal.

Kedelapan mitra BPJS Kesehatan tersebut memiliki program dan strateginya masing-masing untuk peserta BPJS Kesehatan yang menunggak membayar iuran. Mulai dari pemberian insentif, pemberian pinjaman lebih mudah, dan sebagainya. [ARK]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.