SYEKH SITI JENAR DALAM PANGGUNG TEATER DI GEDUNG KESENIAN TANGERANG

FOTO : Pertunjukan Syekh Siti Jenar di Gedung Kesenian Kota Tangerang.

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Teater Kain Hitam Gesbica dari Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin berkeliling pulau Jawa guna mementaskan lakon Syekh Siti Jenar karya Vredy Kastam Marta. Kota Tangerang menjadi salah satu persinggahannya pada 14 dan 15 September 2018, bertempat di Gedung Kesenian Tangerang.

Opik Jenggot, sutradara pementasan ini mengungkapkan alasan dibalik pemilihan lakon ini adalah karena kontekstual.

“Syekh Siti Jenar di persekusi karena perbedaan paham yang dapat mengganggu stabilitas kekuasaan Sultan Demak,” kata Opik kepada wartawan berita online satelitkota.com, (15/9). Lanjut ia, walau ia juga mengakui adanya beberapa perbedaan antara lakon ini dengan sejarah namun karena ini adalah karya fiksi maka ia melihat relevansi lakon ini untuk dipentaskan.

“Setelah melalui enam bulan proses bersama anggota Teater Kain Hitam yang mayoritas baru pertama kali tampil di depan publik jelas memiliki resiko yang tidak sederhana. Pertama saya harus mengedit dialog agar sesuai dengan segmentasi penonton, lakon ini terlalu kompleks untuk dicerna penonton usia remaja,” imbunya.

Pantaun satelitkota.com, cerita Syekh Siti Jenar dalam penampilan Teater Kain Hitam banyak disuguhi adegan yang surealis karena terdapat dialog dan monolog yang berkecamuk dalam batin tokoh utamanya. Dengan perangkat multimedia maka visualisasi surealis menjadi terealisir. Akting Iffan Gondrong sebagai Syekh Siti Jenar pun  banyak terbantu dengan latar yang mengawang tersebut.

Menurut Puguh, mewakili penonton dengan dramaturgi surealisme tersebut maka tercipta pula busana dan properti yang memikat mata pada beberapa karakter rekaan. “Hanya kostum pemeran Waktu yang tidak semenarik karakter lainnya,” ujarnya.

Menurut EB Magor, dirinya yang pernah berperan sebagai Sunan Kudus di tahun 1987, dia menitikberatkan perhatiannya pada ritme dialog Sunan Kudus dengan Syekh Siti Jenar.

”Peran Syekh Siti Jenar bisa lebih dahsyat andai pemeran dapat menghayati karakter dan dialog yang dilemparkan lawan mainnya,” ujar Ketua Komite Teater DKT,

Budi Sabarudin, sastrawan Tangerang, memuji visualisasi surealis lewat latar dan tokoh yang mampu memikat penonton sampai tak bergeming shingga akhir. “Penonton yang didominasi remaja itu belum memahami kompleksitas dari teks dan konteks lakon, tapi saya salut,” pungkasnya.

Untuk diketahui, gedung kesenian sesak dipenuhi oleh pengunjung dan terjual habis tiket masuk sebanyak 1.284 lembar dengan harga tiket Rp. 20 ribu rupiah, selama empat kali pertunjukan.(BOY/MED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.