AKAR-AKAR YANG TERONGGOK, DI TANGAN ARIS : BERUBAH MENJADI BARANG SENI YANG CANTIK

FOTO : Galeri Raja Antik Art, di Jalan Rasuna Said, Kelurahan Pakojan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang.

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Persisnya di kanan jalan menuju arah Kampung Warung Mangga, Jalan Rasuna Said, Kelurahan Pakojan, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang. Disitu pandanganku tergoda oleh tumpukan kayu-kayu kusam yang dibiarkan seolah berserakan di samping kanan-kiri Galeri Raja Antik Art.

Menurut Aris, salah satu pegawai yang kami temui, akar-akar kayu tersebut merupakan sisa dari pohon-pohon yang tumbang dan ada juga dari hasil buruan dirinya masuk dari kampung ke kampung di seputaran Banten.

Kayu-kayu tersebut selama ini cenderung tak termanfaatkan dengan baik. Padahal, dengan sentuhan tepat, akar-akar ini masih punya nilai ekonomis yang tinggi, paparnya.

“Kami memanfaatkan akar-akar pohon, terutama pohon trembesi, nangka, bungur, jati dan mahoni sisa-sisa penebangan yang tidak terpakai. Orang nebang pohonnya kan ambil kayu nya saja. Sisa penebangan, sampai ke akarnya itu, ditinggalkan begitu saja. Padahal, kalau di gali semuanya, itu panjangnya bisa lebih dari dua meteran,” kata Aris kepada wartawan media online satelitkota.com, (19/11).

Pasalnya, akar-akar itu, rata-rata telah ditinggalkan cukup lama sejak ditebang. Terbengkalai begitu saja di perut bumi. Tak hanya akar-akar pohon, sebagai bahan dasar pembuatan furniture ada juga kayu seperi bekas jalan rel kereta api. Namun, menurut Aris dari sekian banyak jenis pohon kata Aris, jenis bahan dasar yang paling kuat selain kayu jati dia juga menyebutkan kayu mahoni terbilang luar biasa. Meski termakan usia berpuluh tahun, daya tahannya tak berubah sama sekali. Daya tahan terhadap kualitas jenis kayu ini jugalah yang menjadi daya tarik dan keistimewaan furniture tersebut.

Katanya, akar-akar itu digali, lalu dibawa ke ruang workshop untuk kemudian diberikan sentuhan kreativitas bernilai seni tinggi. Hasilnya, akar-akar kayu yang tadinya hanya seonggok ‘sampah’ cenderung tak bernilai, tapi ditangan Aris berubah menjadi furniture bercita rasa seni tinggi, urainya.

Pantauan kami, akar-akar ini berubah wujud menjadi kursi dengan bentuk unik, meja, lemari, serta aneka furniture lainnya. Nilainyapun dengan sendirinya turut merangkak naik. Bersama perubahan bentuk dan wujud, yang tadinya seperti ‘sampah’, kini menjadi aneka produk kreatif unik, membuatnya bernilai tinggi. Pasaran furniture, biasa dijual dengan harga yang bervariasi mulai dari harga Rp. 10 juta sampai Rp. 40 juta, papar Aris. Harga ini, menurutnya sebanding dengan tingkat kesulitan dan orisinilitas ide dalam mengolah akar-akar kayu. Yang disebutnya terbilang cukup sulit.

Produk-produknya ini, disebutnya cukup laku di pasaran. Tidak hanya di pasar lokal Jakarta, Tangerang dan sekitarnya, namun sesekali pernah juga ada pesanan ke luar negeri. “Seperti Singapura,” tukasnya.

Untuk menciptakan dan mengembangkan karyanya tersebut, Aris memerlukan waktu hingga satu bulanan. Mulai dari memotong, proses pengampelasan, sampai merakit akar menjadi sebuah perabotan, Aris melakukannya dibantu dengan tiga orang pegawai lainnya. (MED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.