MASYARAKAT PEDULI GERAKAN ANTI HOAX JELANG PEMILU 2019: MENYIKAPI BERITA BERDASARKAN DATA DAN FAKTA

FOTO: (Istimewa)

SATELITKOTA.COM – Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai dengan kemajuan di bidang media informasi dan teknologi pada saat ini telah berjalan begitu pesat, sehingga dalam menempatkan suatu bangsa pada kedudukan sejauh mana bangsa tersebut maju didasarkan atas seberapa jauh bangsa itu menguasai kedua bidang tersebut.

Bangsa Indonesia merupakan salah satu bangsa yang hidup dalam lingkungan global. Maka, mau tidak mau juga harus terlibat dalam maju mundurnya penguasaan media informasi dan teknologi, khususnya untuk kepentingan bangsa sendiri. Kemajuan media informasi dan teknologi sudah dirasakan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat, baik dari segi positif para penggunanya maupun negatif.

Hal itu dikarenakan pengaksesan media informasi dan teknologi ini tergolong sangat mudah atau terjangkau untuk berbagai kalangan. Baik kaum pemuda maupun tua, bahkan kalangan kaya maupun menengah ke bawah.

Salah satu fungsi media informasi dan teknologi yang paling utama adalah dengan cepatnya masyarakat untuk mendapatkan sebuah berita. Berita dapat disajikan dalam bentuk surat kabar, radio, siaran TV maupun media online. Menulis atau menyampaikan suatu berita bukan sekadar mencurahkan isi hati. Sebuah berita harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, aktual, dan informatif. Tidak seperti menulis karangan yang mendayu-dayu.

Berita merupakan fakta yang memang dianggap penting harus segera disampaikan kepada masyarakat. Tetapi tidak semua fakta dapat dijadikan berita oleh media, fakta-fakta yang ada akan dipilih sehingga fakta mana saja yang pantas untuk disampaikan kepada masyarakat.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, masyarakat semakin mudah mengakses segala informasi hanya dengan memanfaatkan internet. Kehadiran media elektronik adalah salah satu faktor pendukung derasnya arus informasi yang dapat diterima masyarakat. Contohnya adalah siaran berita di televisi, situs berita online, akun-akun berita di sosial media, dan sebagainya.

Media elektronik, selain dirasa lebih mudah dalam mengakses informasi yang dibutuhkan, juga umumnya lebih cepat dalam menyebarluaskan suatu isu atau berita terbaru. Sebab, hanya dengan satu kali siaran di televisi atau satu kali posting di dunia maya, dapat segera dilihat oleh masyarakat melalui televisi atau ponsel mereka. Sayangnya, tidak semua informasi yang dimuat media elektronik adalah benar.

Akhir-akhir ini sedang ramai masalah berita palsu atau hoax yang banyak beredar di media sosial. Hal ini bisa dilihat hampir di semua media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, pesan di Whatsapp dan BBM. Berita hoax tersebut tersebar di media sosial dalam bentuk tulisan, berita yang bersumber namun dengan sumber yang tidak kredibel, gambar-gambar yang diedit, serta pesan berantai yang disebar lewat broadcast di whatsapp dan bbm.

Oleh karenanya masyarakat sulit untuk membendung beredarnya berita palsu atau hoax di media sosialnya lantaran berita hoax bisa dikirim oleh siapapun, darimanapun, dan kapanpun. Sehingga berita hoax bisa cepat menyebar dan menjadi ramai di media sosial. Hoax merupakan dampak negatif kebebasan berbicara dan berpendapat di internet, khususnya media sosial dan blog.

Indonesia pada tahun 2018-2019 ini resmi masuk ke tahun politik. Upaya menyambut tahun politik tersebut, diharapkan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk memilih anggota legislatif dan presiden secara damai. Menjadi pemilih dalam pemilu haruslah objektif. Pemilih dalam pemilu adalah orang yang akan menentukan pemimpin untuk bangsa ini.

Ini merupakan momentum yang tidak bisa diulang, sehingga mengharuskan bagi masyarakat Indonesia agar menjadi pemilih yang cerdas dalam menentukan pemimpin Indonesia. Pilkada dan pemilu ter-upgrade karena semakin intensifnya peran sosial media sebagai medium opini publik. Sejak datangnya sosial media, medan politik tak lagi sama. Tokoh dan partai yang jaya adalah yang memaksimalkan sosial media. Begitu besarnya peran media sosial dalam mempengaruhi pilihan politik terutama di kalangan milenial.

Media sosial semestinya dimanfaatkan untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan menyebarkan konten-konten positif. Sayangnya, beberapa pihak memanfaatkannya untuk menyebarkan informasi yang mengandung konten negatif. Menyikapi fenomena tersebut, para pemuda kita dituntut untuk berperan aktif dalam menangkal penyebaran informasi sesat yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Sebagai pemuda yang tentunya dibekali dengan kecerdasan intelektual dan kedewasaan dalam berpikir, sudah sepatutnya kita menempatkan diri kita sebagai bagian kelompok masyarakat yang menjadi filterisasi utama untuk menyelamatkan masyarakat dari berbagai informasi Hoax. Bukan malah terjerumus dalam adu domba pihak-pihak yang tidak bertanggug jawab.

Proses filterisasi itu dapat dimulai dengan aktif mengkampanyekan gerakan anti-Hoax di media sosial dalam berbagai kegiatan sekolah maupun kampus. Dengan banyaknya jumlah pelajar atau mahasiswa yang merupakan representatif dari pemuda intelektual yang menimba pendidikan di kancah nasional maupun internasional serta keberadaan lembaga kemahasiswaan memiliki potensi besar dalam menanamkan penggunaan internet secara sehat kepada masyarakat.

Teknologi ibarat seperti dua sisi mata koin, di satu sisi bermanfaat tetapi di sisi lainnya bisa membahayakan, seperti halnya berita palsu atau hoax. Diperlukan gerakan kolaboratif guna menghantam hoax, agar tidak berimbas untuk generasi masa depan. Penyebaran berita hoax yang umumnya memuat unsur provokasi di media elektronik memerlukan sebuah kebijakan yang tegas dari pemerintah, juga sikap bijak dari masyarakat dalam menanggapi informasi yang beredar dan diterimanya.

Sebab, apabila masyarakat tidak mudah percaya dan bersikap kritis terhadap berita yang di bacanya, kemudian memberi informasi kepada yang lain bahwa berita tersebut palsu atau hoax. Maka berita hoax akan hampa, artinya tak bermakna jika masyarakat cerdas menyikapinya. Hoax juga tak akan berpengaruh kalau kita semua bisa membedakanya dengan berita yang benar.

Masyarakat harus kritis dan saling berbagi apabila menemukan berita yang diragukan keasliannya atau disinyalir sebagai berita palsu atau hoax. Jadi, harus ada suatu upaya bersama dari pemerintah, masyarakat, mahasiswa, pelajar dan aparat penegak hukum dalam upaya mencegah dan mengatasi maraknya penyebaran berita palsu atau hoax.

Menyambut Pemilu 2019, mari kita wujudkan pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. melaksanakan kampanye pemilu yang aman, tertib, damai, berintegritas, tanpa hoax, politisasi SARA, dan politik uang.

Kemudian tak lupa juga untuk melaksanakan kampanye berdasarkan peraturan perundangan-undangan yang berlaku. bagi warganet tentunya harus lebih bijak bermedia sosial. Rajin menyaring informasi sebelum membagikan ke media sosial adalah salah satu langkah antisipatif, sehingga tidak terjebak dalam berita hoax yang tersebar di dunia maya.

Oleh: Ahjar Rifa’i
Karyawan Swasta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.