NURBAETY BAHUWEDHA : BERHATI LEMBUT DI TENGAH ORANG TUNA RUNGU DAN TUNA WICARA

FOTO: Nurbaety Bahuwedha ditemani suami REP. Bahuwedha bersama para penyandang tuna rungu dan tuna wicara

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Memiliki keterbatasan berkomunikasi karena menyandang tuna rungu dan tuna wicara tidak membuat Anton, Udin, Tesen, Novi dan Yati menyerah untuk menggapai kesuksesan. Masing-masing terus berjuang untuk membuktikan agar dapat bekerja sebagaimana layaknya manusia normal. Memiliki pekerjaan yang orang normal mengira tidak bisa mereka lakukan harus ia tepis. Benar ternyata, seperti misal Udin, pria asal Semarang, Jawa Tengah ini meskipun tidak mendapat pendidikan formal. Namun dia rupanya mampu melakukan pekerjaan yang luar biasa dari perkiraan manuasia normal pada umumnya.

Berbekal hanya pengetahuan pendidikan sekolah dasar, itupun tidak lulus. Dia hanya sekolah sampai kelas empat sekolah dasar. Setelah itu, kemudian dia memilih merantau ke kota Jakarta yang awalnya juga bingung mau bekerja apa.

Dari tekad dan kesungguhannya dia mulai bekerja sebagai penjual koran. Berkeliling dari pagi, siang hingga malam ia lakukan pekerjaan itu. Hari demi hari pekerjaan lainnya juga mulai dicoba,  sebagai sopir. Tak tanggung-tangung ia melakoni menjadi sopir truk gandeng, mobil beko, dan kendaraan besar lainnya seperti bus juga pernah.

Pria yang pernah menikahi gadis dengan menyandang gelar Magister (S-2) ini terus berjuang demi mendapat kesetaraan pekerjaan seperti layaknya manusia normal pada umumnya. Lalu kemudian, dia belajar elektro secara otodidak. Dari kegigihannya itu, lalu ia buktikan dan sekarang sudah bekerja disalah satu perusahaan swasta yang menangani urusan sebagai teknisi listrik di perusahaan tersebut, papar Nurbaety Bahuwedha, selaku pemandu bicara biasa dipanggil Bunda, orang tua asuh yang selama ini membimbingnya, Jumat (12/5/2019).

Berbagai rintangan dilalui mulai dari berkomunikasi dengan teman normal lainnya, membangun kepercayaan, bahkan sampai bagaimana meningkatkan kemampuan lainnya. Udin lalu dibantu oleh istri yang keduanya setelah pernikahan pertamanya kandas di tengah jalan membeberkan kisah hidupnya yang penuh liku di Rumah Asuh Bunda. Sebuah rumah biasa yang kebetulan saja sering menjadi ajang kumpulnya orang-orang tuna rungu dan tuna wicara. Ada sekitar 20 orangan bahkan lebih kalau sedang kumpul. Menurut Bunda kegiatan ini biasa diadakan setiap satu minggu sekali atau satu bulan sekali. Mereka datang ada yang dari Bogor, Depok, Jakarta dan Tangerang.

Kegiatan tersebut kata Bunda sebagai ajang menjalin tali silaturahmi antar penyandang tuna rungu dan tuna wicara. Semua biaya seperti makan-makan dan kado buat doorprize tiap kali kegiatan kumpul-kumpul. Bunda keluarkan biaya sendiri dari honor menjadi guru pendidikan usia dini (PAUD).

“Saya iklas buat mereka meskipun harus keluarkan biaya sendiri. Mereka butuh pendampingan. Mereka butuh dan sangat senang sekali kalau kita sebagai manusia normal mau menjadi lawan bicara atau sebagai temann mereka,” ujar Bunda, seraya mengusap pipinya yang basah oleh air mata. Teringat dengan sang kakak yang sama-sama sebagai penyandang tuna rungu dan tuna wicara kepada wartawan berita online Satelitkota.com.

Kisah lainnya yaitu Tesen, pria keturunan warga Tionghoa, asal Kota Tangerang ini juga ikut bergabung dalam ajang perkumpulan ini. Tesen ini sedikit beruntung dari temannya, dia seorang pengusaha toko kaca dan pagar kanopi teralis di Poris Gaga, Kota Tangerang dengan dibantu oleh istrinya yang sama-sama sebagai penyandang tuna rungu dan tuna wicara.

Namun tidaklah semudah yang dibayangkan ketika Tesen memulai usahanya. Ia berusaha mencari pinjaman uang ke orang-orang terdekatnya tapi kala itu belum direstui karena khawatir ia akan ditipu. Tapi Tesen memiliki tekat kuat, ia mulai bisnisnya dari menawarkan kaca dari rumah ke rumah yang salah satunya Bahuwedha  sebagai salah satu pelanggannya kala itu.

Lagi-lagi ternyata langkahnya tidak mulus, ia kerap menerima komplain dari pelanggan yang marah-marah. Hal itu karena komunikasi yang tidaklah lancar sebagaimana mestinya yang berujung kesalahpahaman.

“Saya harus bisa mengatasi dan pasti bisa,” ujarnya. Lanjut ia, usaha yang digeluti Tesen dengan kegigihan itu kini membuahkan hasil. Tokonya kini dipercaya banyak pelanggan.

“Peminatnya sangat banyak dan cenderung terus bertambah,” tegas Tesen yang dibantu oleh Bunda sebai penerjemah. (MED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.