MALAM ANUGERAH FESDRAK 12: PEMBEDA FKIP YANG ADA DI INDONESIA

FOTO : Kelompok Musikalisasi Puisi, dari Teater Cahaya UMT.

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Malam anugerah Festival drama antar kelas (FESDRAK) ke 12, FKIP UMT Kota Tangerang disesaki ratusan mahasiswa. Sajian hiburan pengisi acara tampil menghipnois penonton kaum milenial. Menurut Asep Suhendar, selaku penanggug jawab kegiatan, bahwa Festival Drama Antar Kelas kali ini diikuti oleh 10 grup teater dan oleh 14 dosen yang mengikuti aksi pemanggungan teater.

“Mata kuliah teater diprogramkan oleh fakultas sebagai mata kuliah unggulan, sebagai mata kuliah berciri, kemudian program studi secara operasional menjadwalkan mata kuliah itu dalam semester, dan secara teknis para dosenlah yang mengajarkan bagaimana berteater, ujar Asep kepada wartawan berita online Satelitkota.com, (1/5).

Kenapa teater masuk di dalam mata kuliah unggulan FKIP UMT karena dengan berteater akan mendukung tercapainya guru yang progesional. Yang mana profesionalnya? Itu bisa dilihat dari indikatornya, dalam hal ini guru harus mampu menyampaiakan materi, mampu menyampaikan pesan dengan bagus, dikuasi, juga dengan indah.

“Maka  dengan bermain teater itulah salah satu strategi bagaimana supaya lulusan FKIP UMT menjadi guru yang mampu menyampaikan pesan dengan bagus, mampu menyampaikan materi dengan baik, dan juga dengan indah, yang tentunya dengan benar,” katanya. Lanjut ia, FESDRAK ini merupakan bagian akhir dari perkuliahan teori-teori yang dilakukan di kelas.

Nah dengan adanya langsung praktek maka ada beberapa yang bisa langsung dirasakan. Apa itu? Dengan bermain teater anatomi-anatomi tubuh manusia, anggota badan, itu melakukan komunikasi. Kaki dengan tangan itu melakukan komunikasi  dalam suatu gerakan yang indah. Kemudian pikiran, pikiran kita berkomunikasi dengan perasaan. Badan, badan itu melakukan komunikasi  yang harmoni, apabila melakukan komunikasi yang harmoni itu diterapkan pada saat mengajar di depan kelas. Maka akan menjadi guru yang indah, yang pas ketika menyampaikan meteri pelajaran, paparnya.

“Itu sebagai pembedanya teater yang ada di FKIP UMT dengan FKIP-FKIP yang ada di Indonesia,” tegasnya.

Senada dengan Asep, Dekan FKIP UMT, Enawar, menurut ia, mata kuliah penciri ini dapat menjadi modal kejujujuran, menjadi modal ketrampilan, keheningan, dan kecakapan mahasiswa dalam mengelola kelas menjadi lebih bahagia. Mengolah kelas jadi lebih hidup, mengolah kelas jadi lebih kreatif.

“Di seni budaya ada melukis, ada bermain musik, ada berlatih teater. Disana membentang kejujuran, disana membentang kreativitas. Di atas kreativitas dan kejujuran kaliannlah (mahasiswa) bangsa ini boleh berbangga. Di atas kejujuran dan kreativitas, kalianlah pemimpin-pemimpin besok yang akan mewarnainya dengan baik,” ujarnya.

Diketahui, mereka telah bersusah payah mengeluarkan biaya besar, ada pertengkaran di grup, baik dengan teman kelas mau pun dengan orang tua. Semoga ada point positif, semoga ada penguat buat hari besok, untuk merebut pasar kerja baik di Indonesia, maupun international. (MED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.