MENGAJI DI BULAN RAMADAN BERSAMA PARA DIFABEL

FOTO : Para penyandang tuna rungu dan tuna wicara berkumpul di rumah Nurbaety Bahuwedha, Jalan KH. Hasyim Ashari, Kota Tangerang.

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Belajar Qur’an merupakan kewajiban semua muslim termasuk mereka yang difabel sekalipun. Pada Ramadhan kali ini kami tim Satelitkota.com bisa berkesempatan berkumpul bersama para penyandang tuna rungu dan tuna wicara se Jabodetabek. Di rumah Ibu Nurbaety Bahuwedha, Jalan KH. Hasyim Ashari, Kota Tangerang.

Dari pantauan dilokasi, mereka tidak mudah bagi muslim difabel untuk belajar mengaji ada banyak tantangan. Semisal Iwan, pria paruh baya ini rela datang dari Bogor, meski lokasi dari Tangerang cukup jauh dia sempatkan datang demi bisa berkumpul dengan sesama teman sekomunitas.

Menurut Nurbaety, katanya, selama  ini kagum dengan orang buta yang belajar membaca Qur’an. Sedang kita yang normal ini kadang malas-malasan untuk mengaji, membaca Al-Qur’an. Kita mungkin sudah pada tahu banyak muslim buta yang hafal Al- Qur’an 30 juz, subhanallah.

“Bagaimana dengan muslim yang tuli dan bisu? Ternyata mereka juga tak mau kalah dalam berjuang untuk dekat sama Allah,” katanya.

“Mereka juga ingin berkomunikasi dengan Rabb-Nya,” ujarnya kepada wartawan berita online satelitkota.com, (16/5).

Di rumah Nurbaety, katanya sudah sering menjadi tempat berkumpulnya komunitas tuna rungu dan tuna wicara.

“Mereka berkumpul di bulan Ramadan ini kami gunakan untuk sama-sama belajar Al-Qur’an, mengaji secara bergiliran,” lanjutnya.

Senada dengan Baety, Wedha selaku suami, katanya akan terus mendukung kegiatan sang istri. Yang aktif dalam kegiatan sosial mendampingi orang-orang tuna rungu dan tuna wicara.

“Saya kagum dengan perjuangan istri, ia ajak orang-orang difabel belajar Qur’an,” ujarnya.

Semoga Allah Yang Maha Perkasa memberi pahala bagi mereka. Ini sungguh luar biasa bagi saya karena membuktikan lebih jauh lagi bahwa Allah memelihara kitabNya melalui banyak cara. Bukan hanya melalui mereka yang normal saja.

“Tapi, mereka yang tuna rungu, dan tuna wicara juga ikut memelihara Al-Qur’an, dengan cara membacanya dan memahaminya” tegasnya. (MED)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.