SEMINAR TANGERANG DALAM PERJALANAN SEJARAH, MENGUPAS ASAL-USUL TANGERANG

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Seminar sehari dalam tema “Tangerang dalam perjalanan sejarah”.menurut panitia, acara dilakukan dengan tujuan untuk memberitahukan atau menginformasikan kepada masyarakat tentang sejarah Tangerang secara utuh.

Berbeda dari sejarah yang dulu dari versi yang lalu. “Ini memang berbeda karena mengungkap tentang asal-usul Tangerang,” ujar Asep, selaku Sekretaris LSM Benteng Kita sekaligus penyelenggara menuturkan kepada wartawan satelitkota.com, (16/8) di gedung Cisadane Kota Tangerang.

Secara penamaan, katanya ada keyakinan bahwa kata Tangerang diklaim berasal dari kata Tengaong. Yang artinya orang keturunan masyarakat Tionghoa. Dan itu dapat dibuktikan secara historis melalui catatan sejarah.

Bahwa kelompok masyarakat Tionghoa sudah ada di Tangerang sejak abad 14 atau 1407, bersamaan dengan masuknya kelompok Cangcilung yang berlayar dari Tiongkok menuju Teluk Naga.

Kemudian berkembang beranak pinak menyusuri pinggiran kali Cisadane hingga membentuk satu komunitas masyarakat Tionghoa. Dan uniknya kelompok masyarakat Tionghoa di bawah pimpinan Cangcilung ini, berbeda dengan kelompok masyarakat Tionghoa lainnya.

Mereka benar-benar berasimilasi, benar-benar bermasyarakat di Tangerang ini. Sampai mereka kehilangan bahasa leluhur, bahasa hokkian. Mereka melupakan bahasa dan beberapa tradisi lainnya. Bahkan memunculkan tradisi-tradisi baru membuat akulturasi budaya. Salah satunya menghasilkan gambang kromong, dan beladiri besi, itu juga ada kemiripan dengan winchm.

“Gambang kromong dengan instrumen tekyan itu juga ada kemiripan dengan erhu di Tiongkok sana. Tapi juga ga sama karena itu sudah mengikuti budaya dan geografis di kita” katanya.

Nah yang uniknya mereka sudah kehilangan bahasa leluhur. Malah cenderung menggunakan bahasa ibu yaitu bahasa sunda.

Ciri khas cina benteng yakni mereka mampu berbahasa sunda walaupun bukan menjadi bahasa keseharian. “Kalau dia ga bisa bahasa sunda itu dia bukan orang cina benteng. Itu pasti, itu faktanya,” terang Asep.

Ini akan kita angkat ke depan, tujuannya untuk meningkatkan sense of belonging. Agar tercipta sifat nasionalisme yang lebih kuat.

“Jauh kedepan agar tercipta sifat nasionalisme yang lebih kuat lagi,” tegasnya.

Ia berharap, para stakeholder, para pejabat pemerintah daerah keseluruhan Tangerang Raya. Mengerti ini, pahami ini, asal-usul sejarah Tangerang.

Adapun yang menolak itu biasa, katanya. Lantaran berdasarkan emosional bukan rasional. “Itu mereka masih bersikukuh bahwa asal-usul Tangerang berasal dari kata Tengger,” ucapnya.

Sumangku, Kabid Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kota Tangerang. Menuturkan, katanya ini diskusi yang harus terus dikawal. Ini menjadi aset untuk generasi ke depan. “Dari masing-masing narasumber memang memiliki beragam sudut pandang. Tapi inilah, sejarah memang ragam pandang, ragam ulasan dan kupasan. Ini justru bisa menjadi khasanah ke depan,” katanya.

“Kemungkinan ini akan kita buat rutin kedepan. Sehingga diskusi sejarah Tangerang akan terus berproses,” ujar Sumangku.

Tidak boleh berhenti dan jemu, lalu selesai. Karena ini bisa menjadi harta buat generasi ke depan sehingga punya pedoman, punya panduan.

“Diskusi ini masih banyak pertanyaan-pertanyaan. Justru ini perlu kita jawab ke depan. Semua komponen yang memiliki tanggung jawab moral. Yang memiliki tanggung jawab moral terhadap babad Kota Tangerang ini. Mari berhimpun. Tadi hadir dari beberapa narasumber yang kompeten buat saya,” terangnya.

Hari ini kita harus bersahabat, dan bernasehat. Kebaikan harus disampaikan. Dengan kemampuannya, kita sama-sama bergandengan. Teman-teman eksekutif, legislatif seirama duduk, punya kesadaran tahu malu tentang budaya.

“Yang kita butuhkan hari ini adalah manusia, masyarakat aparatur yang mau mengawal itu. Ketika tidak mampu kita tahu diri,” tegasnya.

Diketahui, acara terbagi dua sesi dengan bahasan mulai dari sudut pandang bahasa dan sejarah. Dengan pembicara diantaranya Bambang Permadi, peneliti sejarah; Johan Wahyudi, peneliti sejarah; Tb. Mogi, ke Aryaan Banten; Badan Bahasa Provinsi Banten, prof. Dr. Multamia, guru besar linguistik. Fakultas Ilmu Bahasa Budaya, Universitas Indonesia. Diselenggarakan oleh LSM Benteng Kita, berdiri sejak 2017. Dan event pertama untuk event budaya. Sekretariat di Jl. Ki Saiman 1 No. 112, Kampung Baru. Rt 1/ 5 Koang Jaya, Kota Tangerang. (MED).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.