Oktober 20, 2020

informasi sekitar kita

Jpeg

DUA USAHA INI PERNAH BERJAYA DI TANGERANG JUGA DI KOTA LAIN: APA KATA PEMERHATI BUDAYA?

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Siapa yang tak pernah menikmati serunya menonton layar tancap? Pada era tahun 1990 pertunjukan layar tancap ini masih menjadi buruan kaum muda-mudi dan menjadi hiburan favorit pada kala itu. Tidak hanya di kampung melainkan juga kota. Hal ini lantaran jenis hiburan layar tancap masih menjadi hiburan yang menyenangkan sekaligus merakyat.  Misbar alias gerimis bubar memang identik dengan layar tancap atau bioskop keliling. Ya, pertunjukan layar tancap yang sering digelar di lapangan terbuka bisa tiba-tiba bubar saat gerimis atau hujan mengguyur.

Hiburan rakyat yang pernah berjaya di era 1970 hingga 1990-an tersebut kini mulai meredup tergilas kemajuan era digitalisasi. Satu-satu pengusaha layar tancap gulung tikar seiring bertebarannya bioskop modern dan mudahnya masyarakat menonton film melalui TV berlangganan atau internet.  Salah satunya Eman, mantan pengusaha layar tancap di pertengahan 90-an. Pemilik usaha layar tancap yang diberi label Glen Boy Film di kampungnya. Kampung Larangan, Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang. Dia menggeluti usaha tersebut usai keluar bekerja sebagai buruh pabrik di tangerang. Katanya, dari pesangon sebagai buruh pabrik di daerah tangerang itulah. Uang pesangon itu kemudian ia gunakan untuk memborong beberapa unit proyektor.

Eman mengakui usaha layar tancapnya kini makin sepi peminat. “Sejak tahun 2000 an peminatnya sepi dan sangat jarang sekali. Beda sekali sama masa tahun 90 an lalu, ramai sekali. Bisa keluar 3 sampai 5 layar kadang dalam waktu satu hari, ” katanya kepada wartawan berita online satelitkota.com, (24/8).

Usaha penyewaan layar tancap miliknya satu diantara usaha penyewaan film lainnya, glen boy ini yang paling ramai orderannya ketimbang yang lainnya. Hal ini lantaran jenis peralatan yang dimiliki pada masa itu dinilai sudah lebih modern. “Dari segi kualitas gambar lebih cerah,” katanya.

Tapi, kisahnya ini sekarang hanya menjadi cerita di kalangan pengusaha layar tancap. Sebab, sekarang Ia tak lagi menjalankan layar tancap seperti dulu, sudah berganti arah pekerjaan dengan menjadi sopir pribadi. Katanya, untuk warga wilayah Tangerang sudah tidak asing lagi. Jasa usahanya ini paling sering di disewa di daerah Kecamatan Larangan, Ciledug, Cipete, Mauk, Tigaraksa bahkan sampai ke Pulau Cangkir, Pulau Pramuka, dan Untung Jawa. Karawang, Bekasi, dan Cikampek.

Saat musim panen atau perayaan  HUT RI sudah tentu, bakalan tak pulang katanya, bisa seminggu dua minggu bahkan lebih. “Ada di sebuah kampung, berputar-putar saja di RT RT sekitar yang menyewa jasanya. Waktu itu hanya Rp. 500 ribu untuk bayar sewanya,” kata Eman.

Selain sebagai mata pencaharian rezeki dia juga hobi menonton film. Sementara itu dia mencontohkan untuk jenis-jenis film yang paling laku katanya untuk pada waktu itu yang paling ramai diminati yakni film-film dari negeri India.

“Film India paling sering jadi permintaan ibu-ibu. Tapi ada juga yang sukanya dengan film-film laga, seperti film yang dibintangi oleh aktor silat Barry Prima, Advent Bangun,” ujarnya.

Berbeda Eman berbeda juga dengan pengalaman usaha yang dilakoni
Muhammad Nasir. Penjual kaset pita yang pernah juga berjaya dimasanya. Seperti yang pernah dilansir satelitkota.com pada Senin, 13 November 2017. Muhammad Nasir dengan gerobaknya yang sudah lawas, nongkrong di depan toko elektronik sekitaran pasar anyar, Kota Tangerang.

Muhammad Nasir (50) masih setia menjajakan dagangan kaset-kaset pita hingga hari ini. Di gerobaknya tertata apik, model berbaris menumpuk. Larik demi larik baris kita bisa mendapatkan hamparan kaset kenangan di masa lampau. Barisan kaset yang tertata apik ini terlihat sudah kusam, warnanya pudar karena terjemur oleh panas matahari.

Sedikit kaset yang warnanya masih nampak bagus. Kaset-kaset itu seolah menggambarkan ketidakberdayaan mereka melawan serangan era musik digital di jaman sekarang. Dalam sejarah perkembangannya, kaset pita adalah suatu bentuk inovasi dari vinyl atau yang biasa disebut piringan hitam. Saat era ’80-’90, para pedagang kaset laris manis dalam menjajakan dagangannya. Muhammad Nasir, pria paruh baya asal Jawa Tengah ini katanya, telah menjalani bisnis berjualan kaset sejak tahun 1988 dan hingga kini. Dia mengaku karena senang dengan musik dan juga berbisnis kaset ini karena tidak ada pilihan usaha di bidang yang lainnya. Ditambah modal juga tidak punya. Ia berharap ada pihak-pihak yang bisa memberinya modal untuk usaha lainnya, tapi tentunya dengan bayaran cicilan yang terjangkau.

“Saya sangat suka musik, maka dari itu berjualan kaset adalah media menyalurkan kecintaan saya pada musik. Dan seandainya ada pihak-pihak yang mau memberikan modal dengan cicilan yang terjangkau, tentu saya akan berpindah ke bentuk usaha lainnya,” ujarnya. Pasalnya, keuntungan penjualan kaset di jaman sekarang terus meredup.

“Setiap hari paling dapat 100 ribu saja sudah alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur,” katanya.

Harga kaset hanya dibanderol Rp. 20 ribu – Rp 15 ribu per kaset.  Jika akhir pekan jumlah konsumen meningkat, lumayan diperkirakan bisa dapat penghasilan mencapai Rp. 200 ribuan.

Para pembeli kaset di lapak Muhammad Nasir ini kebanyakan orang dewasa, mulai dari pelanggan hingga kolektor, tanpa terkecuali genre dan artisnya. “kalau pelanggan biasanya musim tertentu, seperti musim perayaan imlek,  lebaran, dan perayaan hari besar lainnya dan ada juga crew radio komunitas. Kalau kolektor mencarinya musik musik jadul mas, karena kaset-kaset disini rata-rata tahun ’70 sampai ‘90an,” tambahnya.

Kendati suka duka sebagai penjual kaset trotoar telah dilewatinya hingga lebih dari 28 tahun, kucing-kucingan dengan satpol PP juga sudah sering terjadi. “Kita buka setiap hari mulai jam 9 pagi, tapi lihat situasi juga, karena tiap pagi suka ada operasi jadi mesti hati-hati,” keluhnya. Ia mengaku belanja kaset-kaset tersebut ke Jakarta.

Nasir berharap agar industri  kaset pita bisa mencapai puncaknya kembali dimasa yang akan datang, walau serbuan era digital sudah kian menggila, mengingat kemudahan mendengarkan musik di zaman sekarang tidak perlu menggunakan radio kaset melainkan sudah dengan akses internet, pungkasnya.

Di Tempat terpisah, Ngadino, pemerhati dan pelaku budaya, menuturkan kenangannya, katanya layar tancap itu sebagai hiburan rakyat. Tapi sekarang sudah punah, kini tinggal kenangan yang sangat indah. Dia menceritakan waktu dulu sempat juga menikmati, memburu tontonan rakyat ini dengan berjalan kaki sejauh berkilo-kilo meter sambil sarungan. “Seru, pada masa itu nonton di tanah lapang, bercanda sambil guling-gulingan di rumput,” kenangnya.

Kendati layar tancap pada waktu itu katanya kerap dipakai oleh instansi pemerintah untuk membantu melakukan penyuluhan. Kampanye dari pemerintah, kemudian diselipkan di sela-sela pemutaran film, agar lebih efektif menjangkau masyarakat. “Tak hanya instansi pemerintah, ada juga dari perusahaan yang menjual produknya di tengah tayangan film layar tancap,” katanya.

Lanjutnya, melihat media film masih menjadi alat yang sangat efektif untuk menjangkau masyarakat pada waktu itu. “Dengan pemutaran film layar tancap biasanya warga akan datang ramai-ramai ngumpul, dan dari situ baru agenda propaganda juga wacana yang membentuk proses berpikir, serta budaya masyarakat lainnya disisipkan,” ujarnya kepada wartawan media online satelitkota.com, (24/8). (MED)