Oktober 20, 2020

informasi sekitar kita

TMC “NGAMEN” VIRTUAL, APA KATA MEREKA?

TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Komunitas Musisi Perumnas Tangerang (MUPET) dan sekitarnya. Komunitas ini dari para musisi yang mayoritas dari Tangerang tapi ada juga dari beberapa wilayah Tangerang seperti Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang.

 Tujuan komunitas  ini untuk ajang silaturahmi dan untuk saling berbagi informasi positif seperti informasi di bidang seni musik, dan lainnya. Dengan begitu kita bisa berkolaborasi membuat karya. “Karena memang disituasi covid seperti sekarang inikan  banyak teman-teman  yang kehilangan jobnya. Karena memang belum diperbolehkan mengisi acara seperti di tempat-tempat hiburan,” katanya.

Menurutnya seniman dituntut semakin aktif berkarya, bermusik. Maka dikesempatan tersebut MUPET dapat bekerjasama dengan Tangerang Music Community (TMC) sebuah komunitas musik berbasis multi genre musik di Tangerang.

“Sekarang lagi tampil, kita ngadain acara live streaming jadi temen-temen nggak perlu datang tapi cukup di lihat dari live streaming di Facebook di Instagram,” ujar Alit Hidayat Ketua Komunitas MUPET kepada satelitkota.com, (30/8/2020).

Para penampil yang akan meramaikan penampilan musik virtual ada kelompok  Fanser band dan Mura’x band. Penampilan konser musik secara daring, kata Alit,  menjadi satu cara untuk tetap berkarya dan berkreasi. Semakin aktif bermusik dengan sejumlah musisi sampai akhirnya mendirikan komunitas Musik MUPET sejak 7 Juli lalu bersama rekan musisi lainnya. 

Lanjutnya, kehadirannya MUPET di Kota Tangerang mudah-mudahan dipercaya sebagai jembatan untuk bisa menjalin komunikasi dengan instansi pemerintah maupun swasta untuk mengisi di tempat-tempat hiburan yang ada di Tangerang, paparnya. “Dari musik ya mencari rezeki,” terangnya.

Salute buat TMC : Terus Berkarya di Tengah Pandemi

Ditempat berbeda, Madin Tyasawan, Ketua Dewan Kesenian Tangerang (DKT) menurutnya, sektor kesenian menjadi bidang yang sangat terpukul oleh pandemi global covid-19 ini. Tertutupnya ruang-ruang ekspresi kesenian, membuat para seniman bukan cuma tertunda pentas, pameran, dan atau acara-acara kesenian lainnya, tapi juga termatikannya ekonomi penghasilan seniman. Apalagi di Indonesia belum ada jaring pengaman sosial untuk pelaku seni.

Memang, pada kenyataannya, selama ini aktivitas kesenian bergantung pada patron atau pendanaan privat dan mekanisme pasar. Bantuan Pemerintah, pun ada, relatif kecil. Bahkan bantuan itupun sebatas fasilitasi, bukan memberi daya hidup seniman secara ekonomi.

Lalu apa dan bagaimana yang harus dilakukan pelaku seni di tengah pandemi? Di sinilah para seniman menyadari, bahwa peran kesenian itu, salah satunya, menjaga kewarasan masyarakat di masa PSBB. Untuk itu, pelaku seni mesti membaca gerak zaman dan menguasai teknologi khususnya memanfaatkan peran media sosial yang ada. Pelaku seni dapat melakukan transfer pengetahuan dan keterampilannya lewat dunia virtual. Mengembangkan wacana, berdiskusi jarak jauh, serta mempresentasikan proses dan hasil karyanya secara dalam jaingan (daring/online). Dan inilah yang dilakukan oleh para pelaku seni khususnya seniman musik yang tergabung dalam Tangerang Music Community (TMC), paparnya.

“Saya salut kepada pengurus TMC dan teman-teman musisi dan musikus yang tergabung di dalamnya. Yang dengan kreatif menyiasati pandemi dengan ragam gelaran pentas yang dilakukan setiap pekannya melalui media virtual dengan tetap patuh dan disiplin pada protokol kesehatan,” ujar Madin.

Pasalnya, memang, pada akhirnya, covid-19 tidak bisa mematikan kreativitas kesenian kita. Dengan tetap patuh pada protokol kesehatan, kita harus punya juang yang kreatif agar kesenian tetap mengorbit, agar proses berkesenian terus melahirkan karya-karya kreatifnya untuk merawat kehidupan dan menjaga kewarasan.

Senada dengan Madin, Iskandar, sebagai wakil rakyat DPRD Provinsi Banten mengatakan seniman harus tetap berkarya, berinovasi menyesuaikan dengan keadaan. “Tetap semangat dan semangat,” tegasnya. (MED /HADI S.)