TANGERANG,SATELITKOTA.COM – Sekolah Dasar Negeri Panunggangan 10 secara rutin setiap pekan pada hari Rabu, selama 30 menit mengajak seluruh pelajar untuk membaca buku. Menurut kepala sekolah, Dini Wahyuni bahwa kegiatan membaca merupakan bagian dari untuk terus menumbuhkan minat baca pada siswa-siswi di sekolahnya agar tercipta suatu kebiasaan pada diri anak mengenai pembelajaran sepanjang hayat. Karena dengan membaca dapat meningkatkan wawasan, keterampilan bahasa, berpikir kritis, dan konsentrasi, serta membantu mengurangi stress pada diri anak tersebut.
“Membaca sudah harus menjadi kebutuhan untuk mereka (palajar) karena dapat meningkatkan wawasan, keterampilan bahasa, berpikir kritis, dan konsentrasi, serta membantu mengurangi stress,” ujar Dini menjelaskan. Sabtu (4/10/2025).
Selain itu, katanya membaca juga melatih otak untuk menganalisis dan mengingat, membangun memori baru, dan menghasilkan ide-ide inovatif. Selain manfaat personal, membaca juga menumbuhkan budaya literasi yang mendukung kemajuan pendidikan, dan pembangunan masyarakat secara keseluruhan. Maka sangat penting sinergi antara sekolah dengan para orang tua di rumah kembali diajak apa yang sudah menjadi pembiasan di sekolah dilakukan juga di rumah.
“Untuk menambah siswa makin gemar membaca kami menggandeng pihak swasta yang seringkali datang menawarkan program kegiatan lintarasi mereka menyediakan hadiah hiburan seperti susu dan biskuit,” sambungnya.
Senada dengan Dini, pantauan Satelitkota.com juga menemui Kepala SDN Cikokol 3 Mintarsih menuturkan, katanya melakukan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah kegiatan dalam upaya menumbuhkan budi pekerti peserta didik khususnya dan seluruh warga sekolah pada umumnya. Lanjutnya, untuk kegiatan literasi di sekolahanya saat ini sudah berjalan dengan baik, serta antuias minat membacanya juga bagus. Hal ini ditandai dengan adanya pembiasaan siswa setelah membaca kemudian dimintakan kembali untuk menjelaskan ulang apa yang dibaca di depan teman-temanya.
“Iya kami sering memintakan mereka (siswa) untuk mejelaskan ulang di depan teman-temannya. Tak jarang kami pun memberinya hadiah untuk siswa yang bisa menjelaskannya dengan sangat baik seperti alat tulis atau buku dan perlengkapan belajar lainnya yang disambut tepuk tangan dengan meriah,” ujar Mintarsih.
Ditempat yang sama Fajar Ayuhadiasih penggiat literasi di SDN Cikokol 3 menyampaikan kendala yang ditemuai seringkali soal waktu dan cuaca, di mana waktu literasi biasanya 30 menit dari pukul 07.00. Sementara orang tua terkadang suka terlambat mengantarkan anaknya tidak datang lebih pagi. Untuk buku-buku sendiri perlu ada penambahan buku baru, karena buku lama sudah kerap sekali di baca oleh siswa meskipun jumlahnya tergolong cukup banyak, ribuan.
“Kalau cuaca kebetulan hujan kami pindahkan di dalam kelas. Pojok baca menjadi sarana alternatif jika sewaktu-waktu kalau kebetulan hujan. Sehingga yang biasanya di lapangan pindah ke dalam kelas atau ke Lab. Komputer alih wahana dengan kegiatan literasi digital mereka menon sebuah tayangan mendidik lainnya,” Pungkasnya. (MED)
![]()

BERITA TERKAIT
Encop Sopia Raih Gelar Doktor Bidang Ilmu Politik di Universitas Indonesia
Usai Libur Lebaran, Komisi II DPRD Minta Siswa Kembali Fokus Belajar
Puncak peringatan HUT ke-33 Kota Tangerang Sederhana Tapi Penuh Makna