BREAKING NEWS

Home / Headline / Wisata dan Kuliner

Senin, 19 Oktober 2026 - 05:44 WIB

Surabaya dan Seni Sarapan: Dari Soto Berkuah Kuning hingga Kopi Tarik 24 Jam

Nasi kuning avon | Istimewa

Nasi kuning avon | Istimewa

KULINER — Di kota yang terus bergerak, sarapan bukan selalu perkara mengisi perut sebelum berangkat kerja. Di Surabaya, pagi justru menjadi kesempatan untuk menyantap hidangan yang bagi sebagian orang mungkin terlalu berat untuk ukuran sarapan: rawon berkuah hitam, nasi campur dengan lauk bertumpuk, hingga soto ayam yang ditaburi koya.

Ada yang datang untuk mengusir lapar. Ada pula yang sengaja bangun lebih awal demi semangkuk hidangan langganan. Di antara keduanya, warung-warung sarapan menjadi bagian dari denyut kehidupan kota. Sebagian mempertahankan resep dan kebiasaan lama, sementara yang lain mengemas tradisi makan pagi dengan suasana yang lebih modern.

Surabaya menawarkan keduanya. Tinggal memilih: duduk di warung sederhana dengan semangkuk kuah panas atau menikmati kopi dan roti panggang di kopitiam kawasan pusat kota.

Kuah Panas untuk Membuka Hari

Soto menjadi salah satu cara warga Surabaya memulai pagi. Di Undaan Wetan, Soto Ayam Cak To menawarkan soto bergaya Lamongan dengan kuah kuning berbumbu kuat. Taburan koya menjadi pelengkap yang membuat rasa dan teksturnya semakin khas.

Warung ini mulai melayani pelanggan sekitar pukul 05.30 WIB. Waktu buka yang cocok bagi mereka yang terbiasa sarapan sebelum kesibukan kota benar-benar dimulai.

Pilihan lain datang dari Bubur Ayam Spensix Bang Salim. Meski pernah berpindah lokasi, warung ini tetap mempunyai pelanggan setia. Bubur bercita rasa gurih dengan taburan ayam dan kacang menjadi pilihan bagi mereka yang menginginkan sarapan lebih lembut, tetapi tetap mengenyangkan.

Di Jalan Jawa, kawasan Gubeng, pelanggan mulai berdatangan sejak pagi. Semangkuk bubur di tempat ini memperlihatkan bahwa sarapan tak harus selalu berupa nasi dengan lauk lengkap. Tekstur lembut dan rasa gurih pun cukup untuk menemani awal hari.

Namun, bagi pencinta rasa yang lebih pekat, rawon menawarkan pengalaman berbeda. Rawon Pak Pangat Wonokromo menyajikan hidangan berkuah hitam yang menjadi salah satu identitas kuliner Jawa Timur.

Selain rawon suwiran, tersedia rawon krengsengan dengan perpaduan rasa gurih, manis, dan pedas. Warung sederhana ini mulai buka sekitar pukul 06.30 WIB.

Di meja makan, kuah hitam yang mengepul seolah menantang anggapan bahwa sarapan sebaiknya selalu ringan. Di Surabaya, urusan makan pagi kadang justru dimulai dengan hidangan yang sanggup membuat orang kenyang hingga siang.

Nasi Campur dan Nasi Kuning, Bukan Sekadar Pengganjal

Jika soto dan bubur menawarkan kehangatan kuah, nasi campur mengandalkan keragaman lauk. Depot Nasi Campur Pojok Tambak Bayan menjadi salah satu pilihan bagi mereka yang ingin memulai hari dengan sajian lebih lengkap.

Sepiring nasi disandingkan dengan beragam pelengkap, antara lain empal, telur semur, tahu, dan soun goreng. Perpaduan lauk tersebut membuat nasi campur bukan sekadar makanan pembuka hari, melainkan santapan yang cukup serius.

Bagi pekerja yang harus menghadapi perjalanan panjang atau agenda padat, pilihan semacam ini terasa masuk akal. Sarapan tak perlu ditunda sampai perut mulai mengirimkan protes di tengah pekerjaan.

Ada pula Nasi Kuning Avon, yang menawarkan nasi beraroma rempah dengan lauk seperti tongkol pedas dan sambal. Tempat ini mulai buka sekitar pukul 05.30 WIB.

Sajian nasi kuning tersebut memberikan alternatif bagi mereka yang menginginkan rasa lebih tajam sejak pagi. Kehadiran sambal dan lauk bercita rasa kuat juga menunjukkan bahwa selera makan warga kota tidak selalu mengikuti anggapan bahwa sarapan harus serba ringan.

Kopitiam dan Perubahan Cara Menikmati Pagi

Tradisi sarapan Surabaya tak hanya bertahan di warung-warung lama. Di pusat kota, kopitiam menghadirkan cara berbeda untuk menikmati pagi: lebih santai, dengan kopi, roti panggang, dan suasana yang mendukung percakapan.

Ah Pek Kopitiam di Jalan Tunjungan menawarkan menu seperti kopi butter, kaya toast, egg tart, dan nasi lemak ayam rempah. Lokasinya di kawasan bersejarah membuat kegiatan sarapan bisa sekaligus menjadi alasan untuk menikmati suasana pusat kota.

Bagi sebagian pengunjung, daya tariknya bukan hanya makanan. Ada kesempatan untuk duduk lebih lama, berbincang, atau menikmati kopi setelah berolahraga pagi.

Pilihan lain adalah Kedai Kopi, kopitiam modern yang beroperasi 24 jam. Bubur bakar claypot menjadi salah satu menu yang bisa dinikmati, dengan pilihan topping dan kopi tarik sebagai pendamping.

Kehadiran tempat seperti ini memperlihatkan bahwa sarapan tidak selalu terikat pada jam tertentu. Bagi pekerja dengan jadwal berbeda, pelancong, atau mereka yang baru selesai beraktivitas malam, tempat makan yang buka sepanjang hari memberikan keleluasaan tersendiri.

Di kopitiam, pengalaman makan juga mendapat porsi lebih besar. Suasana, penyajian, dan kesempatan menghabiskan waktu bersama teman menjadi bagian dari daya tariknya. Sarapan tak lagi semata-mata urusan mengejar kenyang sebelum bekerja.

Datang Pagi, Menikmati Kota

Perbedaan tempat sarapan tersebut memperlihatkan dua wajah Surabaya. Di satu sisi, ada warung yang mengandalkan cita rasa dan pelanggan setia. Di sisi lain, muncul tempat makan yang memadukan menu tradisional dengan pengalaman bersantap yang lebih modern.

Keduanya bertemu pada satu kebiasaan: memulai hari melalui makanan.

Bagi pemburu kuliner, waktu kunjungan patut diperhatikan. Sejumlah warung sudah buka sejak pukul 05.30 WIB, sementara Rawon Pak Pangat mulai beroperasi sekitar pukul 06.30 WIB. Datang sebelum pukul 07.30 WIB dapat menjadi pilihan untuk menghindari keramaian, meski kondisi setiap tempat berbeda.

Pada akhirnya, sarapan di Surabaya bukan hanya soal apa yang tersaji di atas meja. Ia juga bercerita tentang kebiasaan warga, ketahanan usaha kuliner, dan perubahan gaya hidup perkotaan.

Semangkuk soto, sepiring nasi campur, atau secangkir kopi tarik mungkin terlihat sederhana. Namun, dari sanalah hari dimulai—sebelum jalanan semakin padat, pekerjaan menumpuk, dan kota kembali bergerak tanpa banyak memberi jeda.

Di Surabaya, pagi punya banyak rasa. Dan untuk menemukannya, kadang yang dibutuhkan hanya kemauan bangun lebih awal. (*

Ditulis oleh Redaksi

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Lihat Semua Artikel

Share :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Baca Juga

Headline

Tutup SBCC Kids II, Maryono Tekankan Juara Bukan Sekadar Medali

Headline

Di Studio Kandang Jaran, Dwi Samuji Membiarkan Kuda Berlari di Atas Kanvas

Headline

PWHI Desak Bupati Indramayu Usut Dugaan Gedung Desa Jadi Tempat Karaoke dan Pesta Miras

Headline

Menu Rumahan di CitraRaya yang Bikin Kangen Ndeso: Buntil, Olahan Pare dan Cumi