SATELIT KOTA, Tangerang – Perayaan ulang tahun ke-32 CitraRaya tidak hanya diisi dengan kegiatan olahraga dan hiburan. Pengelola kawasan tersebut juga mengajak masyarakat mengubah kebiasaan mengelola sampah, dimulai dari lingkungan rumah tangga.
Ajakan memilah sampah organik dan anorganik menjadi salah satu pesan yang disampaikan General Manager (GM) Estate Management PT Ciputra Residence CitraRaya, Meita Mediawati, dalam kegiatan Eco Walk Car Free Day (CFD) di kawasan Eco Plaza, Minggu, 1 November 2026.
Menurut Meita, pertumbuhan kawasan permukiman perlu diimbangi dengan kesadaran masyarakat menjaga lingkungan. Ketersediaan fasilitas dan infrastruktur, kata dia, tidak akan cukup tanpa keterlibatan penghuni dalam menciptakan kawasan yang bersih, tertib, dan nyaman.
“Pada usia ke-32 ini, kami berharap CitraRaya yang terus berkembang dengan berbagai fasilitasnya dapat senantiasa menjadi kawasan yang tertib dan aman,” ujar Meita.

Dia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah menjadi bagian dari perjalanan CitraRaya selama lebih dari tiga dekade. Dukungan warga dinilai berperan dalam menjaga kehidupan sosial dan mendukung berbagai kegiatan di kawasan tersebut.
Dalam perayaan kali ini, pengelola menggelar sejumlah kegiatan, mulai dari olahraga bersama, perlombaan, pemilihan kostum terbaik, hingga pembagian hadiah. Namun, di balik rangkaian acara tersebut, pengelolaan sampah menjadi salah satu perhatian utama.
Headline Ikan Gabus, Predator Rawa yang Gemar Menyambar Umpan Palsu
Headline Ribuan Pesilat Cilik Ramaikan SBCC Kids ke-2, Rebutkan Piala Wali Kota Tangerang
Wisata dan Kuliner Warung Jati, Pecak Tangerang yang Bikin Makan Siang Ketagihan
Headline Surabaya dan Seni Sarapan: Dari Soto Berkuah Kuning hingga Kopi Tarik 24 Jam
Meita menjelaskan, CitraRaya telah menjalankan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos. Bahan bakunya berasal dari cacahan rumput, dedaunan, serta berbagai jenis tanaman yang terkumpul dari lingkungan kawasan.
Adapun sisa makanan dari rumah tangga, pelaku UMKM, dan usaha kuliner diolah dengan memanfaatkan maggot atau larva lalat tentara hitam (black soldier fly).
Dari proses pengolahan tersebut, CitraRaya menghasilkan sekitar 1,2 ton pupuk setiap bulan. Hasilnya kemudian dibagikan secara gratis kepada masyarakat.
“Jadi, kami mengimbau Bapak dan Ibu untuk mulai memilah sampah organik dan anorganik, khususnya sampah plastik, sejak dari rumah,” kata Meita.
Selain pengolahan sampah organik, pengelola juga menyiapkan upaya untuk menangani sampah rumah tangga secara lebih menyeluruh. Melalui kerja sama dengan sejumlah pihak, CitraRaya menargetkan sampah yang dihasilkan kawasan dapat diolah tanpa menyisakan residu.
Salah satu teknologi yang direncanakan untuk dimanfaatkan adalah Refuse Derived Fuel (RDF), yakni pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.
Program tersebut diharapkan dapat memperluas pemanfaatan sampah. Tidak hanya menjadi persoalan kebersihan lingkungan, sampah juga berpotensi diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.

Meski demikian, keberhasilan pengolahan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat sejak tahap awal. Pemilahan dari rumah menjadi bagian penting agar sampah lebih mudah diproses sesuai jenis dan karakteristiknya.
Meita berharap penghuni CitraRaya ikut mendukung program tersebut sehingga pengelolaan lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Menurut dia, persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya oleh pengelola kawasan. Diperlukan kerja sama antara masyarakat, pengelola, pelaku usaha, dan pemerintah daerah.
Pada usia ke-32, CitraRaya tidak hanya merayakan perkembangan kawasan dan bertambahnya fasilitas. Pengelola juga mendorong perubahan perilaku masyarakat agar persoalan sampah dapat ditangani sejak dari sumbernya.
Upaya tersebut menjadi bagian dari tanggung jawab menjaga kualitas lingkungan permukiman, sekaligus memastikan kawasan tetap nyaman bagi generasi mendatang.





Komentar