BREAKING NEWS

Home / Headline / Liputan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:48 WIB

279 Temuan 279 Migas Belum Dikembangkan, Investasi US$ 16 Miliar Dibidik

Konferensi pers FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta | Foto: Dok. Istimewa

Konferensi pers FOREK Hulu Migas 2026 di Jakarta | Foto: Dok. Istimewa

 SATELIT KOTA, Jakarta — Indonesia memiliki potensi minyak dan gas bumi (migas) yang belum sepenuhnya dikembangkan. Sebanyak 279 struktur temuan migas masih menunggu keputusan investasi, sementara produksi minyak nasional masih menghadapi tantangan untuk memenuhi target pemerintah.

Persoalan tersebut akan dibahas dalam Forum Ekonomi, Keuangan, dan Komersial Hulu Minyak dan Gas Bumi (FOREK Hulu Migas) 2026 pada 28–29 Oktober 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta. Forum ini mempertemukan pemerintah, regulator, kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), investor, perbankan, dan pelaku industri untuk membahas hambatan investasi serta percepatan pengembangan lapangan.

Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti, mengatakan kepastian hukum, kebijakan fiskal yang kompetitif, dan iklim investasi yang kondusif diperlukan untuk mendorong eksplorasi dan pengembangan cadangan migas.

“Kami mendorong pembangunan wadah komunikasi, sinergi, dan kolaborasi untuk merespons berbagai tantangan industri hulu migas,” ujar Desti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Menurut Desti, tantangan industri bukan hanya menemukan cadangan baru, tetapi juga memastikan temuan tersebut dapat dikembangkan secara ekonomis dan menghasilkan produksi.

“Bagaimana mengubah potensi menjadi produksi merupakan pertanyaan penting yang harus kita jawab bersama,” katanya.

Direktur Keuangan PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Bayu Kusuma Dewanto, mengatakan pengembangan lapangan migas membutuhkan investasi besar, teknologi, pembiayaan, dan koordinasi lintas sektor. Proyek migas dapat memerlukan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun sejak eksplorasi hingga produksi, bergantung pada karakteristik lapangan dan kesiapan infrastruktur.

“Komitmen kami sebagai pelaku usaha hulu migas adalah bekerja sama mencari solusi untuk ketahanan energi Indonesia. Kita memiliki potensi besar, tetapi sebagian masih menunggu untuk dikembangkan. Ini tidak mudah dan tidak murah,” ujar Bayu.

Kebutuhan investasi juga meningkat seiring dengan penurunan produksi alamiah di sejumlah lapangan yang telah memasuki fase matang. Karena itu, investasi diperlukan untuk mengembangkan temuan baru sekaligus mempertahankan produksi dari lapangan yang sudah beroperasi.

279 Struktur Menunggu Investasi

Materi FOREK mencatat Indonesia memiliki 128 cekungan sedimen yang teridentifikasi. Namun, baru 20 cekungan yang telah dikembangkan secara komersial. Sebanyak 279 struktur temuan migas lainnya belum dikembangkan dan masih menunggu keputusan investasi.

Target investasi hulu migas pada 2026 disebut mencapai US$ 16 miliar. Percepatan investasi diharapkan membantu meningkatkan produksi minyak yang masih berada di bawah target APBN 2026.

Realisasi investasi dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kelayakan ekonomi proyek, efektivitas perizinan, ketersediaan infrastruktur, dan kepastian pasar.

Ketua Organizing Committee FOREK Hulu Migas 2026, Nyimas Fauziah Rikani, mengatakan forum ini dirancang untuk menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat ditindaklanjuti.

“Diperlukan wadah kolaborasi yang mempertemukan berbagai pihak untuk duduk bersama, membangun perspektif yang sama, dan menghasilkan solusi konkret yang bisa ditindaklanjuti,” ujar Nyimas.

FOREK 2026 dijadwalkan berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan sekitar 50 narasumber dalam tiga sesi pleno. Jumlah partisipan tercatat sekitar 1.100 orang, melampaui perkiraan awal sebanyak 750 peserta.

Penyelenggara berharap forum ini dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, serta dihadiri Menteri Keuangan, Suahasil Nazara.

Tiga Agenda Utama

FOREK Hulu Migas 2026 mengusung tema percepatan ketahanan energi melalui strategi komersialisasi, pengelolaan investasi, harmonisasi kebijakan fiskal, dan tata kelola terintegrasi.

Tiga agenda utama yang dibahas meliputi peningkatan daya saing investasi melalui kepastian kebijakan, penguatan komersialisasi untuk mendukung kebutuhan energi domestik, serta perluasan kemitraan dan pembiayaan guna mempercepat realisasi proyek.

Melalui forum ini, para pemangku kepentingan diharapkan merumuskan langkah konkret untuk memperbaiki iklim investasi dan mempercepat pengembangan lapangan migas, sehingga potensi cadangan dapat berkontribusi lebih besar terhadap ketahanan energi nasional. (*

Ditulis oleh Redaksi

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Lihat Semua Artikel

Share :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Baca Juga

Headline

Pasar Kaget City Market CitraRaya: Ketika Belanja Minggu Pagi Menjadi Rekreasi

Headline

TransNusa Buka Rute Melbourne-Bali, Frekuensi Penerbangan Jadi Setiap Hari

Headline

Pemkot Tangerang Bangun Trotoar Jalan Kiasnawi, Ditargetkan Rampung Desember 2026

Headline

Pondok Mancing Cukanggalih, Tempat Melepas Penat di Curug Tangerang