BREAKING NEWS

Home / Headline / Soft News

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:12 WIB

Primitiva Yulandari Ingin Seragam Eco Print Jadi Identitas Fesyen Tangerang

Primitiva Yulandari dari Asosiasi Desainer Eco Print sekaligus penggagas Tivana Eco Print Collection | Foto: Dok. Istimewa

Primitiva Yulandari dari Asosiasi Desainer Eco Print sekaligus penggagas Tivana Eco Print Collection | Foto: Dok. Istimewa

LIFE STYLE — Daun tak selamanya gugur menjadi sampah. Di tangan Primitiva Yulandari, dedaunan meninggalkan warna dan motif pada kain. Dari sana, lahir busana dengan corak alami yang membawa pesan tentang kreativitas dan fesyen ramah lingkungan.

Melalui merek Tivana Eco Print, Primitiva mengolah unsur alam menjadi produk fesyen. Usaha itu ia tekuni setelah pensiun. Kini, ia ingin karyanya tak berhenti sebagai produk kerajinan, tetapi berkembang menjadi bagian dari identitas fesyen lokal.

Salah satu gagasannya cukup menarik: menetapkan satu hari khusus bagi pegawai pemerintah di Tangerang untuk mengenakan pakaian berbahan atau bermotif eco print.

“Saya ingin di Tangerang ada satu hari khusus ketika pegawai atau instansi pemerintah menggunakan pakaian atau seragam eco print,” kata Primitiva dalam acara puncak Festival Dekranasda Kabupaten Tangerang di Mal Ciputra CitraRaya, Minggu, 18 Oktober 2026.

Bagi Primitiva, seragam bukan sekadar pakaian kerja. Jika dirancang dengan baik, pakaian yang dikenakan aparatur pemerintah dapat menjadi etalase bagi produk lokal. Masyarakat pun memiliki kesempatan lebih besar untuk mengenal karya desainer dan perajin di daerahnya sendiri.

Eco print merupakan teknik memindahkan bentuk dan pigmen alami dari daun atau bunga ke permukaan kain melalui proses tertentu. Hasilnya berupa motif yang khas, dengan pola dan warna yang tidak selalu sama pada setiap lembar kain.

Keunikan itulah yang menjadi daya tariknya. Daun yang satu dapat meninggalkan jejak berbeda dari daun lainnya. Kain pun memperoleh karakter yang sulit diseragamkan seperti produk bermotif cetakan pabrik.

Primitiva, yang juga bergabung dengan Asosiasi Desainer Eco Print, melihat potensi tersebut sebagai peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mengembangkan produk fesyen bernilai tambah.

Ia tidak hanya mengandalkan produk jadi. Peragaan busana menjadi salah satu cara memperkenalkan eco print kepada masyarakat. Melalui panggung fesyen, kain bermotif alami dapat tampil sebagai busana yang dikenakan sehari-hari, bukan semata-mata kerajinan untuk dipajang.

Namun, memperluas pasar produk kreatif membutuhkan lebih dari sekadar desain yang menarik. Pelaku usaha juga memerlukan ruang promosi, kesempatan berpartisipasi dalam kegiatan daerah, serta akses pasar yang berkelanjutan.

Pengalaman Primitiva dalam Festival Dekranasda Kabupaten Tangerang memperlihatkan pentingnya hal tersebut. Ia menilai jumlah peserta lomba batik tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Peragaan busana juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan.

Sayangnya, ia mengaku menerima informasi acara terlalu dekat dengan waktu pelaksanaan. Informasi itu diketahuinya melalui Instagram, media sosial yang tidak rutin ia buka.

“Saya sebenarnya ingin ikut berpartisipasi. Tetapi, waktunya hanya tiga hari. Tidak mungkin menyiapkan baju dengan tema khas Tangerang dalam waktu sesingkat itu,” ujarnya.

Bagi desainer, menyiapkan busana bertema daerah bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan hanya dengan memilih kain dan menjahitnya. Ada konsep yang perlu dirancang, motif yang mesti dipertimbangkan, serta potongan busana yang harus disesuaikan dengan tema acara.

Informasi yang disampaikan lebih awal, menurut Primitiva, akan memberi kesempatan kepada pelaku kreatif untuk mempersiapkan karya secara lebih matang.

Dari persoalan promosi tersebut, ia kembali pada gagasan penggunaan seragam eco print. Ia membayangkan setiap instansi dapat mengenakan desain yang berbeda, sehingga keragaman karya para desainer di Banten mendapat ruang.

“Seragamnya bisa berbeda-beda, tetapi tetap terlihat bagus. Pelaku eco print di Banten juga banyak, jadi karya mereka bisa dimanfaatkan,” tuturnya.

Gagasan itu berpotensi menjadi saluran promosi bagi produk lokal. Namun, penerapannya membutuhkan perencanaan agar manfaatnya tidak berhenti pada penampilan seremonial. Standar kualitas, harga, kapasitas produksi, dan mekanisme pengadaan perlu diperhitungkan supaya pelaku UMKM memiliki kesempatan yang adil.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan bahwa penggunaan produk lokal benar-benar membuka pasar bagi perajin dan desainer, bukan sekadar menambah agenda berpakaian tematik.

Primitiva berharap Banten kelak memiliki agenda khusus penggunaan seragam eco print, setidaknya satu hari dalam setahun.

“Harapan saya, suatu saat Banten punya agenda penggunaan seragam eco print. Paling tidak, ada satu hari dalam setahun untuk mengenakannya,” katanya.

Lewat Tivana Eco Print, Primitiva terus mengembangkan fesyen berbasis unsur alam. Kini, ia berharap karya para desainer dan perajin memperoleh ruang yang lebih luas melalui promosi, kolaborasi, dan dukungan pemerintah daerah.

Pada selembar kain bermotif daun, ada lebih dari sekadar keindahan. Ada kreativitas yang perlu dihargai, usaha kecil yang membutuhkan pasar, dan peluang ekonomi yang menunggu untuk dikembangkan. Tantangannya adalah memastikan jejak daun itu tak hanya indah di atas kain, tetapi juga meninggalkan manfaat bagi orang-orang yang mengerjakannya. (*

Ditulis oleh Redaksi

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Lihat Semua Artikel

Share :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Baca Juga

Headline

Wabup Tangerang Apresiasi Drag Bike Piala Bupati 2026, Dorong Jadi Agenda Tahunan

Headline

Pasar Kaget City Market CitraRaya: Ketika Belanja Minggu Pagi Menjadi Rekreasi

Headline

Tari Gedruk: Tarian Rakyat dari Magelang dan Amarah Alam yang Kian Terdesak

Headline

Pondok Mancing Cukanggalih, Tempat Melepas Penat di Curug Tangerang