KULINER — Di Jalan KH Ma’shoem, Bayanan, Soditan, Lasem, secangkir kopi hitam bisa menjadi alasan untuk memperlambat waktu. Di warung John Kopi, orang datang bukan sekadar untuk menyeruput kopi, melainkan juga berbincang, bertukar kabar, dan merawat tradisi.
Di kota yang dikenal dengan batik tulisnya itu, ada kebiasaan unik bernama kopi lelet. Ampas kopi yang biasanya dibuang justru diolah menjadi hiasan pada batang rokok. Tradisi ini dikenal sebagai ngelelet atau nyethe.
Caranya sederhana. Setelah kopi diminum, ampas yang tertinggal di cangkir dipindahkan ke lepek, lalu dicampur sedikit susu atau mentega hingga menjadi pasta. Dengan bantuan lidi, tusuk gigi, atau benang, ampas tersebut dioleskan ke batang rokok hingga membentuk garis, lengkungan, bahkan motif menyerupai batik.
Sebatang rokok pun menjadi kanvas kecil. Dari ampas kopi, lahir karya yang menunjukkan bahwa kreativitas bisa tumbuh dari kebiasaan sehari-hari.
Dari Kopi Sedulit hingga Ngelelet
Headline Tutup SBCC Kids II, Maryono Tekankan Juara Bukan Sekadar Medali
Headline Anggota Polisi Tewas Ditembak di Markas, Keluarga Temukan Luka Lain
Headline Ikhwan Wicaksono, Seniman yang Mengubah Tembok-tembok Kosong Menjadi Cerita
Esai Iguana Hijau: Si Pemalu dari Amerika yang Bisa Tumbuh Dua Meter
Tradisi kopi lelet disebut berkembang sejak masa kolonial, sekitar dekade 1930-an, di kawasan perbatasan Desa Gedongmulyo dan Desa Dasun, Kecamatan Lasem. Pada masa awal, kebiasaan ini dikenal sebagai kopi sedulit. Ampas kopi dioleskan ke batang rokok menggunakan jari tangan.
Seiring waktu, cara sederhana itu berkembang. Berbagai alat digunakan untuk menghasilkan motif yang lebih beragam. Aktivitas mengoleskan ampas kopi pun menemukan sisi artistiknya.
Kopi yang digunakan harus memiliki ampas sangat halus. Karena itu, bubuk kopi biasanya digiling berulang kali agar menghasilkan tekstur yang sesuai. Kopi robusta dengan karakter rasa pahit dan pekat menjadi salah satu pilihan yang lazim.
Ritualnya berlangsung tanpa tergesa-gesa: kopi diseruput, percakapan mengalir, lalu ampas diolah menjadi motif di batang rokok.
John Kopi dan Ingatan tentang Lasem
Di John Kopi, tradisi itu berpadu dengan kehidupan sosial warga. Warung kopi menjadi ruang perjumpaan lintas generasi dan latar belakang. Obrolan tentang kampung, pekerjaan, perdagangan, hingga politik mengalir di antara cangkir-cangkir kopi.
Di tengah perubahan zaman, tempat seperti John Kopi menunjukkan bahwa kuliner tradisional bukan hanya soal rasa. Ada kebiasaan, sejarah, dan hubungan antarmanusia yang ikut dipertahankan.
Lasem selama ini dikenal sebagai kota tua dengan jejak perdagangan dan pertemuan berbagai kebudayaan. Identitas itu tidak hanya tersimpan dalam bangunan kuno atau motif batik, tetapi juga dalam tradisi sederhana seperti kopi lelet.
Di dasar cangkir John Kopi, ampas yang tersisa punya cerita sendiri. Sesuatu yang biasanya dianggap tak berguna justru menjadi bagian dari warisan budaya.
Di Lasem, secangkir kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah cara masyarakat menjaga ingatan, satu seruput dan satu motif dalam satu waktu. (*





Komentar