SATELIT KOTA, Tangerang Selatan – Tujuh mobil Elf bergerak membelah kepadatan lalu lintas perkotaan. Di dalam kendaraan itu, para siswa SMP Santa Patricia bersiap mengikuti kegiatan yang berbeda dari rutinitas belajar di ruang kelas. Mereka menuju Kampung Rimbun, Serpong, Tangerang Selatan, untuk menjalani Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS).
Kegiatan pada 31 Oktober 2026 itu bukan sekadar agenda tahunan sekolah. Seluruh siswa dari kelas VII, VIII, dan IX dilibatkan dalam pelatihan yang dirancang untuk mengenalkan kepemimpinan, kedisiplinan, dan kemampuan berorganisasi.
Di tengah generasi yang akrab dengan teknologi digital, sekolah melihat ada keterampilan lain yang perlu diasah: kemampuan berkomunikasi secara langsung, bekerja sama, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab terhadap pilihan.
Kepala SMP Santa Patricia, Hironimus Harapan, mengatakan LDKS memiliki sejumlah tujuan mendasar. Salah satunya membangun jiwa kepemimpinan agar siswa mampu mengatur diri sendiri sekaligus memimpin kelompok secara efektif.
Materi yang diberikan juga mencakup manajemen organisasi, administrasi, penyusunan program kerja, serta pemahaman tentang kelembagaan sekolah.
Headline Primitiva Yulandari Ingin Seragam Eco Print Jadi Identitas Fesyen Tangerang
Headline Citra City Sentul dan Citra Sentul Raya, Serupa Nama tetapi Berbeda Karakter
Headline Menu Rumahan di CitraRaya yang Bikin Kangen Ndeso: Buntil, Olahan Pare dan Cumi
Headline Tongseng, dari Dapur Boyolali hingga Warung Kambing di Tangerang
“Disiplin dan tanggung jawab menjadi bagian penting. Kami ingin menanamkan komitmen terhadap aturan, tugas, dan kewajiban. Begitu juga kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, berkolaborasi, hingga menyelesaikan konflik dalam tim,” ujar Hironimus.
Kegiatan diawali di aula Kampung Rimbun. Para siswa mengikuti sejumlah sesi, antara lain public speaking, manajemen waktu, kepemimpinan modern, dan wawasan kebangsaan.
Bagi Hironimus, pendidikan kepemimpinan menjadi semakin relevan ketika berhadapan dengan karakter Generasi Z. Generasi yang tumbuh bersama internet dan perangkat digital itu memiliki pola komunikasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
“Sebagai generasi yang tumbuh di dunia serba digital, instan, dan terkoneksi secara daring, Gen Z memiliki karakteristik unik yang membutuhkan pendekatan kepemimpinan berbeda,” katanya.
Menurut dia, kecakapan berkomunikasi melalui layar gawai tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan berinteraksi secara langsung. Karena itu, LDKS menjadi ruang bagi siswa untuk melatih komunikasi interpersonal dan membangun kepercayaan diri.
Pelatihan juga dirancang tidak berhenti pada penyampaian teori. Melalui simulasi dan tantangan fisik maupun mental, siswa dihadapkan pada situasi yang menuntut ketahanan, kemampuan berpikir kritis, serta pengambilan keputusan dalam keterbatasan waktu dan sumber daya.
Mereka belajar bahwa memimpin bukan sekadar memberi instruksi. Ada tanggung jawab, kemampuan mendengarkan, dan kesediaan bekerja bersama orang lain yang harus dibangun.
Di lingkungan sekolah, keterampilan semacam itu menjadi bekal penting. Sebab, organisasi siswa bukan hanya tempat menjalankan program kegiatan, melainkan juga ruang belajar tentang perbedaan pendapat, pembagian tugas, dan konsekuensi sebuah keputusan.
LDKS sendiri dikenal sebagai salah satu bentuk pembinaan kesiswaan untuk menyiapkan siswa menjalankan peran dalam organisasi sekolah, termasuk OSIS. Tradisi pembinaan kepemimpinan tersebut berkembang melalui program kesiswaan di lingkungan pendidikan Indonesia.
Bagi SMP Santa Patricia, pelibatan seluruh jenjang kelas dalam kegiatan tahun ini memperluas kesempatan siswa untuk mengenal kepemimpinan sejak dini. Mereka tidak hanya dipersiapkan menjadi pengurus organisasi, tetapi juga diharapkan mampu menerapkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan kolaborasi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, perjalanan tujuh mobil Elf menuju Kampung Rimbun itu bukan semata perpindahan tempat. Ada proses pembelajaran yang ingin dibawa pulang para siswa: bahwa menjadi pemimpin tidak cukup hanya pandai berbicara di depan layar atau memiliki banyak pengikut di media sosial. Kepemimpinan juga diuji ketika seseorang harus mengambil keputusan, menghadapi masalah, dan bertanggung jawab terhadap orang lain.





Komentar