informasi sekitar kita

SANGAR SENI PAVITA: POTRET KECIL WARGA CIAPUS

BOGOR/SATELITKOTA.COM – Sanggar Seni Pavita menjadi pendamping bagi anak-anak di kaki gunung salak, tidak hanya memberikan pengajaran tapi juga sarana kreativitas, pendidikan seni pertunjukan dan film, bukan persoalan mudah. 29 tahun sudah, pasangan suami istri Elizabeth Lutters dan Sigit Hardadi selain mantan pengurus Dewan Kesenian Tangerang (DKT-tahun 2000) ia juga dikenal sebagai pendamping anak-anak gunung. Mereka tak hanya dikenal sebagai aktor yang menghiasi semua TV swasta dan juga penulis skenario TV, dia juga seorang yang peduli dengan warga Ciapus.

Tidak sedikit anak petani, kuli bangunan, tukang reparasi kursi, anak yatim, remaja putus sekolah hingga dewasa, dibekali pendidikan seni pertunjukan dan film di Sanggar Seni Pavita. Dengan tujuan anak-anak ini mampu bersaing dengan sukses seperti anak kota lainnya. “Anak-anak di gunung ini sebenarnya memiliki kualitas yang sama dengan anak-anak lainya,” kata Elizabet Lutters kepada wartawan berita online satelitkota.com, Senin (4/7/17).

Menurutnya, beberapa diantara anak-anak gunung ini malah sudah banyak yang tampil di Tv swasta melalui beberapa tayangan sinetron dan film layar lebar.  Anak-anak gunung di Sanggar Seni Pavita tidak saja dibekali  pelajaran seni peran, dan film melainkan juga diajari tentang teknik menulis skenario film dan sinetron, imbuhnya.

Kalau soal pertunukan teater anak-anak ini jangan ditanya lagi. Mereka sudah puluhan kali terlibat dalam pementasan teater di gedung-gedung bergengsi diberbagai kota. Termasuk yang paling anyar adalah mereka tampil drama musikal yang berjudul “hidup berbagi”  pada tangal, 5 Desember 2013 di Balai Sarbini, Jakarta. Tidak kurang dari 1500 tiket dengan harga Rp. 100 ribu hingga Rp. 1 juta ludes terjual.

Harapan Elizabeth, selain sebagai tempat pendidikan  seni untuk anak dia juga berharap para pelancong yang datang ke Kota Bogor, untuk singgah sejenak ke Sanggar Seni Pavita yang beralamat di Jalan Raya Ciapus (masuk jalan sandiwara), Buniaga, Taman Sari, Ciapus, Bogor. Dilokasi yang lumayan luas 6000 meter ini katanya, pengunjung akan disajikan berbagai macam pertunjukan seni, selain sebagai tempat pendidikan seni anak gunung, sanggar ini juga bisa menjadi tujuan wisata. Cukup dengan rute perjalanan kereta api kalau dari Jakarta,  turun di Stasiun Bogor naik angkot arah BTM, lalu naik angkot 03 arah Ciapus. Sampai perempatan Telkom belok kanan, 300 meter ada jembatan, terus saja ikuti jalan kurang lebih  200 meter ada tower XL, pas dibawah tower ada jalan sandiwara, masuk dengan jalanan sedikit naik sepanjang 100 meter nanti ada gapura kayu dan papan nama Sanggar Seni Pavita, ditempat itu anak-anak gunung warga Ciapus belajar seni peran dan karya film disebuah ruang yang apa adanya.  Namun, disanalah mereka diberi pelajaran tentang makna seni dan pelajaran hidup.

Anak-anak ini belajar tidak dipungut biaya, tututannya hanya anak diwajibkan menabung dari honor manggung atau main sinetron dan film di Tv swasta yang dia perolehnya untuk kebutuhan hidupnya. “Honor mereka harus ditabung, saya buatkan rekeningnya dan mereka sendiri yang datang ke bank,” ujarnya.

Meskipun sanggar ini gratisan, tapi tidak main-main, pengajarnya adalah orang-orang dari latar belakang pendidikan di dunia seni pertunjukan panggung dan film. Pengajar aktif mulai dari Elizabeth Lutters, Dosen penulisan skenario di pusat film usmar ismail, Kuningan, Jakarta. Saat ini sedang merampungkan tayangan FTV diary ayah, yang akan diproduksi untuk Tv swasta. Sigit Hardadi aktor kawakan yang sudah merajai Tv dan Film sekarang sedang terlibat dalam sinetron 7 manusia harimau dan anak jalanan, pengajar lainnya ada Anoci Deminico, yang juga sekarang sedang main di sinetron “jawara” dan main film layar lebar “Untuk Angeline” tayang Juli ini di bioskop. Selain itu ada juga Clement Alfonso, juga artis yang sedang main di sinetron “Jawara”.

Selain pengajar-pengajar tetap ada juga pengajar atau guru tamu yang didatangkan dari kalangan artis senior juga seperti, Yatie Surachman, Hans Gunawan, Derry Drajat, dan Egy Fadly, mereka adalah pengajar-pengajar yang juga rela tidak dibayar. Tujuan mereka adalah hanya ingin saling berbagi ilmu atau sedekah ilmu, imbuhnya.

Pada awal-awal  tahun 1987 Sanggar Seni Pavita ini kerap berpindah tempat, dimulai dari kota kelahirannya yaitu Kota Surabaya,  lalu berkembang ke Kota Tangerang tahun 1988, dan pindah lagi ke Ciapus, Bogor tahun 2012 hingga sekarang. Sanggar ini, saat ini terus mengadvokasi anak-anak gunung untuk bisa melakukan perubahan bagi dirinya. Menurut Elizabeth yang paling efektif adalah dengan pendekatan seni . Bagaimana mengajak anak-anak terlibat dalam cerita di teater , film dan kepenulisan naskah untuk bisa menjadi tambahan biaya kebutuhan sendiri. Pada 4 November 2016 nanti adalah hari ulang tahun sanggar, tanggal itu kemudian ditetapkan disebutnya sebagai hari kelahiran warga Ciapus. Beragam sajian karya seni pun sedang dipersiapkan untuk menyambut perayaan ulang tahun Sanggar  Seni Pavita, undangan sejumlah artis ibu kota juga sudah dilaporkan akan hadir mengisi acara pada gelaran budaya warga di Kaki Gunung Salak, tegasnya. (MED)

Loading