BREAKING NEWS

Home / Headline / Wisata dan Kuliner

Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:04 WIB

Tongseng, dari Dapur Boyolali hingga Warung Kambing di Tangerang

Tongseng

Tongseng

KULINER — Bunyi sodet beradu dengan wajan panas. Aroma rempah naik bersama asap tumisan daging kambing. Kecap meresap ke dalam kuah, berpadu dengan gurih kaldu dan sengatan cabai. Seporsi tongseng pun siap menggoda selera.

Di balik hidangan yang akrab di warung-warung Jawa itu, tersimpan cerita tentang kreativitas dapur, perjumpaan budaya, dan kebiasaan masyarakat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia.

Tongseng kerap dikaitkan dengan wilayah Klego, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Hidangan ini berkembang dari tradisi mengolah daging kambing, termasuk potongan yang tersisa dari proses pembuatan sate. Daging kemudian dimasak bersama kuah gulai, sebelum ditumis dengan kecap dan aneka bumbu.

Perjalanan sejarah tongseng tidak bisa dilepaskan dari tradisi kuliner kambing di Jawa. Pengaruh masakan dari Timur Tengah dan Asia Selatan, yang dibawa melalui hubungan perdagangan dan perjumpaan antarmasyarakat, ikut mewarnai perkembangan hidangan berbumbu di Nusantara. Namun, asal-usul tongseng secara khusus masih memerlukan penelusuran sejarah lebih lanjut.

Di tangan masyarakat Jawa, racikan itu menemukan karakternya sendiri. Ada rasa gurih dari kaldu, manis kecap, pedas cabai, serta aroma rempah yang menguar dari wajan. Sayuran seperti kol dan tomat memberi tekstur sekaligus kesegaran di antara potongan daging kambing.

Nama tongseng juga memiliki beberapa penjelasan populer. Salah satunya menghubungkannya dengan bunyi seng-seng ketika sodet menggesek wajan saat daging ditumis. Ada pula yang mengaitkannya dengan istilah oseng-oseng, yakni teknik memasak dengan cara menumis. Penjelasan tersebut dikenal luas, meski asal-usul istilahnya belum dapat dipastikan.

Dari Jawa Tengah, tongseng kemudian menyebar ke berbagai daerah. Ia singgah di warung-warung pinggir jalan, hadir di tengah kawasan permukiman, dan menjadi pilihan bersantap bagi pencinta olahan kambing.

Di Kabupaten Tangerang, jejak kuliner itu dapat dijumpai di Pondok Sate dan Tongseng Solo “Ndeso” Mas Petruk, Jalan Raya Curug Parigi, Kelurahan Sukabakti, Kecamatan Curug. Lokasinya berada di seberang Alfamidi Curug Parigi.

Namanya menyiratkan dua hal: sate dan tongseng sebagai menu utama, serta nuansa ndeso yang merujuk pada suasana atau cita rasa khas kampung.

Bagi penggemar daging kambing, pilihan menunya tidak berhenti pada tongseng. Ada sate, gulai, tengkleng, hingga nasi goreng kambing. Pengunjung bisa memilih hidangan sesuai selera, dari daging bakar yang aromanya menggoda sampai masakan berkuah yang menghangatkan.

Tongseng menjadi salah satu menu yang menarik perhatian karena perpaduan rasa manis, gurih, pedas, dan rempahnya. Potongan daging kambing bertemu kecap dan kuah berbumbu, sementara sayuran melengkapi isi mangkuk. Karakter semacam ini membuat tongseng cocok disantap bersama nasi putih hangat.

Warung Mas Petruk sendiri terbilang baru. Usianya sekitar satu tahun, tetapi pelanggan mulai berdatangan dari sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang. Bagi yang tidak sempat datang langsung, hidangannya juga tersedia melalui layanan pesan-antar seperti ShopeeFood, GrabFood, dan GoFood.

Kehadiran warung ini menunjukkan bagaimana kuliner daerah menemukan ruang baru di tengah pertumbuhan kawasan perkotaan. Resep dan selera yang tumbuh dari tradisi Jawa tetap mendapat tempat di meja makan masyarakat Tangerang.

Tongseng memang bukan sekadar urusan daging kambing dan bumbu. Di dalamnya ada kecakapan mengolah bahan, keberanian memadukan rasa, dan perjalanan panjang sebuah tradisi kuliner.

Dari dapur-dapur di Jawa Tengah hingga warung di Curug, Tangerang, hidangan ini terus menemukan penikmatnya. Kadang, sejarah tidak hadir dalam buku tebal atau ruang museum. Ia justru mengepul dari semangkuk tongseng, bersama aroma kecap dan rempah yang mengundang siapa saja untuk menyendoknya sekali lagi. (*

Ditulis oleh Redaksi

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Lihat Semua Artikel

Share :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Baca Juga

Headline

Primitiva Yulandari Ingin Seragam Eco Print Jadi Identitas Fesyen Tangerang

Headline

Staycation di Tangerang, dari Nonton Film hingga Menginap Bertema Halloween

Headline

Beri Apresiasi ke Mentan, Budiman Sudjatmiko Klaim Swasembada Beras Tercapai

Headline

Restoran Dapoer Kharisma di Sepatan Ludes Terbakar, Tujuh Unit Damkar Dikerahkan