SATELIT KOTA, Tangerang β Biaya pupuk menjadi salah satu komponen yang menentukan keuntungan petani. Di tengah kebutuhan meningkatkan hasil panen, Pemerintah Kabupaten Tangerang menggandeng Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menguji teknologi pengelolaan tanah dan pupuk organik di lahan persawahan Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sepatan.
Program ini tidak hanya menyasar peningkatan produktivitas padi, tetapi juga efisiensi biaya produksi melalui pemanfaatan bahan organik dan sumber daya lokal.
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang menargetkan penggunaan teknologi tersebut dapat menghemat kebutuhan pupuk hingga 15β30 persen. Namun, efektivitasnya masih perlu dibuktikan melalui pengujian di lahan pertanian.
Kepala DPKP Kabupaten Tangerang Ujang Sudiartono mengatakan, pendampingan BRIN dalam program peningkatan produktivitas lahan pertanian merupakan tindak lanjut dari program NGEMAS, yakni kajian berbasis riset untuk meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman.
Salah satu kegiatan yang dilakukan ialah pelatihan pembuatan pupuk organik dengan formulasi hasil penelitian BRIN. Bahan yang digunakan antara lain biochar dari arang sekam, kotoran hewan yang telah matang, nutrisi organik dari rumput laut, serta limbah organik yang diolah dengan bahan tambahan tertentu.
Wisata dan Kuliner Warung Jati, Pecak Tangerang yang Bikin Makan Siang Ketagihan
Soft News Dari Lalat Amerika ke CitraRaya: Ketika Maggot Bekerja Mengunyah Sampah
Headline TransNusa Buka Rute Melbourne-Bali, Frekuensi Penerbangan Jadi Setiap Hari
Headline Beri Apresiasi ke Mentan, Budiman Sudjatmiko Klaim Swasembada Beras Tercapai
βKita praktikkan formulasi khusus hasil riset peneliti BRIN,β kata Ujang.
Menurut dia, perpaduan bahan tersebut dirancang untuk membantu memperbaiki kualitas tanah sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar petani. Teknologi ini diharapkan menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk konvensional dan menekan pengeluaran usaha tani.
Selain pelatihan, kerja sama dengan BRIN mencakup pembaruan data kondisi tanah, meliputi kandungan unsur hara fosfor (P) dan kalium (K), tingkat keasaman tanah atau pH, serta kadar karbon organik (C-organik).
Data tersebut menjadi dasar untuk menyusun rekomendasi pengelolaan lahan sesuai karakteristik tanah. Dengan pendekatan berbasis kondisi lahan, pemupukan diharapkan dapat dilakukan secara lebih tepat, bukan sekadar mengikuti kebiasaan atau menggunakan takaran yang sama untuk setiap petak sawah.
Program ini juga mencakup uji coba dan validasi teknologi pengelolaan lahan, peningkatan kapasitas penyuluh serta petani, dan pengembangan aplikasi seluler untuk memberikan rekomendasi pengelolaan tanah.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPKP Kabupaten Tangerang Abdul Munir mengatakan, kegiatan riset tersebut berlokasi di Desa Mandiri Pangan (Demapan), Desa Mekar Jaya, Kecamatan Sepatan.
Pengujian dilakukan bersama Kelompok Tani Bina Harapan di lahan percobaan seluas satu hektare. Uji coba dijadwalkan berlangsung pada musim tanam kedua, periode Oktober hingga Desember 2026.
Lahan tersebut akan menjadi tempat untuk menguji penerapan teknologi pengelolaan tanah dan pupuk organik dalam kegiatan budidaya padi sawah.
Hasil pengujian menjadi penting untuk melihat sejauh mana formulasi pupuk dan rekomendasi pengelolaan lahan mampu memberikan manfaat bagi petani. Penghematan pupuk, perbaikan kondisi tanah, dan peningkatan hasil panen merupakan sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai keberhasilan program.
Bagi petani, teknologi pertanian tidak cukup hanya menjanjikan hasil panen yang lebih tinggi. Inovasi juga perlu terbukti dapat menekan biaya, mudah diterapkan, dan sesuai dengan kondisi lahan serta kemampuan petani.
Karena itu, keberhasilan riset di Mekar Jaya nantinya tidak hanya diukur dari penerapan formulasi pupuk organik, tetapi juga dari manfaat nyata yang dihasilkan bagi produktivitas sawah dan pendapatan petani. (*





Komentar