BREAKING NEWS

Home / Headline / Seni dan Budaya

Sabtu, 7 November 2026 - 17:25 WIB

Ketika Rama Meragukan Shinta, Pelajar Tangerang Menafsirkan Ulang Ramayana

Pementasan Tetaer Ramayana melalui pementasan Kisah Cinta Rama dan Shintan oleh pelajar SMKN 3 Kota Tangerang | Foto: Dok. Meddy

Pementasan Tetaer Ramayana melalui pementasan Kisah Cinta Rama dan Shintan oleh pelajar SMKN 3 Kota Tangerang | Foto: Dok. Meddy

SATELIT KOTA, Kota Tangerang – Kisah cinta Rama dan Shinta selama berabad-abad dikenal sebagai cerita tentang kesetiaan dan pengorbanan. Namun, di tangan para pelajar SMKN 3 Kota Tangerang, cerita klasik Ramayana itu mendapat wajah berbeda. Cinta tidak lagi sekadar tentang kesetiaan, tetapi juga tentang kepercayaan yang bisa runtuh oleh keraguan.

Melalui pementasan Kisah Cinta Rama dan Shinta, Teater Bada mengajak penonton melihat kembali salah satu kisah paling dikenal dalam tradisi pewayangan tersebut. Pertunjukan yang digelar di sebuah pusat perbelanjaan di Kota Tangerang, Kamis (5/11/2026), itu menyedot perhatian pengunjung. Mereka berdesakan menyaksikan para pemain yang tampil dengan kostum, properti, dan tata artistik bernuansa kerajaan.

Alih-alih sekadar menghidupkan kembali cerita Ramayana, kelompok teater pelajar ini menawarkan penafsiran yang lebih dekat dengan persoalan manusia. Rama, yang selama ini dikenal sebagai sosok bijaksana dan penuh welas asih, justru digambarkan meragukan kesucian serta ketulusan cinta istrinya, Dewi Shinta.

Keraguan itu membawa Shinta pada ujian yang menyakitkan. Ia harus memasuki kobaran api untuk membuktikan kesetiaannya kepada Rama. Adegan tersebut menjadi pusat ketegangan pertunjukan sekaligus menghadirkan pertanyaan: mengapa ketulusan seseorang harus dibuktikan melalui pengorbanan yang begitu besar?

Api dalam adegan itu bukan semata unsur dramatik. Ia menjadi simbol ujian terhadap kehormatan, kesetiaan, dan posisi perempuan dalam hubungan. Sementara itu, Rama menghadirkan gambaran tentang bagaimana prasangka dapat mengalahkan kepercayaan, bahkan dalam hubungan yang dibangun atas dasar cinta.

Penafsiran ulang ini memperlihatkan bahwa cerita klasik tidak selalu harus diperlakukan sebagai kisah masa lalu. Di tangan generasi muda, Ramayana dapat menjadi ruang untuk membicarakan persoalan yang tetap relevan: kepercayaan, harga diri, pengorbanan, dan relasi antarmanusia.

Pementasan Tetaer Ramayana melalui pementasan Kisah Cinta Rama dan Shintan oleh pelajar SMKN 3 Kota Tangerang | Foto: Dok. Medy

Di balik gagasan tersebut, ada proses kreatif yang tidak sederhana. Para anggota Teater Bada terlibat dalam persiapan naskah, tata panggung, properti, hingga kostum dan tata busana. Setiap unsur dirancang untuk membangun suasana mitologis sekaligus memperkuat karakter cerita.

Pelatih Teater Bada, Medy Kesesi, mengatakan kelompok yang berdiri sejak 2000 itu telah menghasilkan 98 produksi. Selama 26 tahun, kegiatan ekstrakurikuler tersebut menjadi ruang pembelajaran seni sekaligus tempat siswa membangun keberanian.

“Sudah 26 tahun Teater Bada eksis membina generasi muda melalui ekstrakurikuler di sekolah sebagai ruang berkreativitas. Mereka juga belajar menjadi pribadi yang berani tampil, berbicara, dan berekspresi penuh percaya diri di depan umum maupun di atas panggung,” ujar Medy.

Bagi para pemain yang sebagian besar berasal dari generasi Z, teater bukan hanya perkara menghafalkan dialog. Mereka harus memahami karakter, mengolah emosi, membangun kerja sama, dan menerjemahkan gagasan menjadi pertunjukan yang dapat diterima penonton.

Di tengah semakin terbatasnya ruang pertunjukan dan panggung festival teater pelajar di Kota Tangerang, keberadaan Teater Bada menjadi salah satu penanda bahwa kegiatan seni di lingkungan sekolah masih terus berlangsung.

Produksi ke-98 itu sekaligus memperlihatkan bahwa warisan cerita klasik dapat terus hidup melalui tafsir generasi yang berbeda. Rama dan Shinta mungkin berasal dari dunia mitologi, tetapi keraguan, cinta, dan persoalan kepercayaan yang mereka hadapi tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Pada akhirnya, panggung Teater Bada tidak hanya menghadirkan kembali kisah Ramayana. Ia juga membuka ruang bagi anak-anak muda untuk bertanya, menafsirkan, dan menyampaikan pandangan mereka tentang kehidupan melalui bahasa seni pertunjukan. (*

Ditulis oleh Medy Kesesi

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Lihat Semua Artikel

Share :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Baca Juga

Headline

Menu Rumahan di CitraRaya yang Bikin Kangen Ndeso: Buntil, Olahan Pare dan Cumi

Headline

Anggota Polisi Tewas Ditembak di Markas, Keluarga Temukan Luka Lain

Esai

Israel, Singapura, dan Jejak Sawit Indonesia yang Perlu Dibongkar

Headline

Halloween di Karawaci, Le Semar Hotel Hadirkan BBQ dan Kompetisi Foto Berhadiah