BREAKING NEWS

Home / Headline / Seni dan Budaya

Senin, 19 Oktober 2026 - 18:13 WIB

Bulan Bahasa, Wowok Hesti Prabowo Ingatkan Anak Muda Merawat Bahasa Indonesia

Wowok Hesti Prabowo

Wowok Hesti Prabowo

SATELIT KOTA, Tangerang — Bahasa Indonesia tumbuh bersama perubahan zaman. Istilah baru bermunculan, bahasa gaul berkembang di ruang pergaulan, dan media sosial mempercepat perubahan cara anak muda berkomunikasi. Namun, di tengah dinamika itu, sastrawan Tangerang, Wowok Hesti Prabowo, mengingatkan pentingnya menjaga kemampuan menggunakan bahasa Indonesia sesuai kaidah.

Keprihatinan Wowok menjadi refleksi dalam peringatan Bulan Bahasa setiap Oktober. Baginya, kreativitas anak muda dalam menciptakan bahasa pergaulan bukan sesuatu yang harus dibatasi. Persoalan muncul ketika kebiasaan tersebut membuat mereka mengabaikan ketepatan berbahasa, terutama dalam menyampaikan gagasan secara lisan maupun tulisan.

“Bahasa adalah ungkapan pikiran dan perasaan yang disampaikan, baik secara lisan maupun tulisan. Apa yang disampaikan harus selaras dengan pikiran dan perasaan, supaya tidak terjadi salah komunikasi,” ujar Wowok, Senin (19/10/2026).

Menurut Wowok, penguasaan bahasa tidak sekadar berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan tata bahasa. Kemampuan memilih kata dan menyusun kalimat turut menentukan apakah sebuah pesan dapat dipahami secara tepat oleh orang lain.

Bahasa gaul, dalam konteks ini, tetap memiliki ruang sebagai bagian dari perkembangan budaya anak muda. Namun, kemampuan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar perlu dipelihara agar mereka dapat menyesuaikan cara berkomunikasi dengan situasi, baik dalam pergaulan, pendidikan, maupun ruang publik.

Salah satu jalan untuk membangun kecakapan tersebut, kata Wowok, adalah membiasakan diri membaca. Buku tidak hanya menyediakan informasi, tetapi juga memperkaya kosakata, memperluas perspektif, dan melatih seseorang menyampaikan gagasan secara runtut.

“Ya kembali membaca buku. Sumber ilmu pengetahuan dan inspirasi itu di buku. Buku itu jendela dunia,” katanya.

Wowok juga memaknai membaca secara lebih luas. Selain menelaah buku, seseorang perlu memahami kehidupan melalui pengalaman dan peristiwa di sekitarnya. Kebiasaan membaca dan mengamati membantu generasi muda membangun pengetahuan sekaligus memahami beragam persoalan sosial.

“Perintah membaca itu jelas dalam agama. Termasuk membaca kehidupan,” ujarnya.

Ia menilai keluarga memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya literasi. Orang tua dapat mengenalkan buku sejak dini dan membiasakan anak berdiskusi mengenai bacaan mereka. Dengan demikian, membaca tidak berhenti sebagai kewajiban sekolah, tetapi menjadi bagian dari proses membangun wawasan dan kemampuan berpikir.

“Saatnya orang tua mendorong anak-anaknya membaca buku. Biar anak-anak berwawasan luas,” kata Wowok.

Bahasa dan Sejarah Persatuan

Refleksi Wowok bertepatan dengan Bulan Bahasa dan Sastra yang diperingati setiap Oktober. Momentum ini berakar pada Sumpah Pemuda, yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda II. Dalam ikrar tersebut, para pemuda menegaskan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan di tengah keberagaman suku dan bahasa di Nusantara.

Sejak itu, bahasa Indonesia memiliki kedudukan penting dalam perjalanan kebangsaan. Peringatan Bulan Bahasa dan Sastra menjadi salah satu ruang untuk memperkuat penggunaan bahasa Indonesia, mengembangkan sastra, serta menumbuhkan apresiasi terhadap bahasa daerah. Momentum ini sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa bahasa bukan hanya sarana komunikasi, melainkan bagian dari identitas dan kebudayaan bangsa.

Dalam pandangan Wowok, merawat bahasa Indonesia tidak berarti menolak perubahan. Bahasa akan terus berkembang mengikuti kehidupan penuturnya. Tantangannya adalah memastikan perkembangan itu tetap disertai kesadaran mengenai ketepatan penggunaan bahasa sesuai konteks.

Bagi generasi muda, kemampuan berbahasa juga berkaitan dengan kecakapan menyampaikan pendapat, memahami informasi, dan membangun komunikasi di tengah masyarakat yang beragam. Kebiasaan membaca menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat kemampuan tersebut.

Wowok pun mengajak masyarakat menjadikan Bulan Bahasa bukan sekadar agenda seremonial, melainkan kesempatan untuk kembali memperhatikan cara menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita berbahasa persatuan: bahasa Indonesia. Mari kita gunakan bahasa persatuan ini dengan baik dan benar,” tuturnya. (*

Ditulis oleh Redaksi

Belum ada informasi tentang penulis ini.

Lihat Semua Artikel

Share :

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Baca Juga

Headline

Tutup SBCC Kids II, Maryono Tekankan Juara Bukan Sekadar Medali

Headline

Surabaya dan Seni Sarapan: Dari Soto Berkuah Kuning hingga Kopi Tarik 24 Jam

Headline

Ribuan Pesilat Cilik Ramaikan SBCC Kids ke-2, Rebutkan Piala Wali Kota Tangerang

Headline

Pemkot Tangerang Libatkan OPD untuk Kejar Juara Umum PORPROV Banten 2026